Salahkah Jika Cinta Timbul Bukan Melalui Sebuah Pertemuan Nyata?

Sabtu, 19 April 2014

Senyummu. Dibalik foto itu.
Celotehanmu.

Hatiku selalu berdebar tiap aku menerima mention darimu. Kamu pengisi ruang-ruang hatiku yang hampa. Kamu mengisi dan memenuhinya dengan suatu kesan sederhana yang disebut kebahagiaan. Lebih tepatnya, kebahagiaan sejak mengenalmu.

Dari awal aku mengenalmu, aku merasa ada yang salah. Aku juga tak tahu apa hal itu. Berawal dari sebuah percakapan sederhana yang mungkin tak ada pentingnya sama sekali bagi semua orang. Dan aku di sini, tersenyum. Entah mengapa aku selalu merasakan dentuman kecil dalam hatiku tiap menatap wajahmu dari belakang layar. Di balik foto itu terdapat senyummu yang selalu mengalihkan duniaku.

Bahagia bagiku bukanlah sesuatu yang rumit. Bahagia bukan tentang bagaimana orang memandangmu, namun bahagia itu tentang bagaimana hatimu senang walaupun melalui hal-hal sederhana. Sesederhana melihat namamu muncul di timeline; apalagi di tab mention ku.
Mungkin aku tertarik padamu. Tapi entahlah. Aku masih ragu akan perasaanku ini. Perasaan yang mulai muncul sejak pada malam itu. Percakapan sederhana. Indah sekali.

Karena sesuatu yang indah bukanlah seperti apa yang kita lihat, namun ini mengenai apa yang kita rasakan. Aku merasa tenang saat aku terdiam di hadapan komputerku, menatap indahnya sinar matamu dibalik hamparan dimensi maya. Mencari tahu semua tentang dirimu melalui ketukan-ketukan kecil oleh jemariku. Aku akan mencoba agar aku mengenalmu jauh lebih dalam. Semampuku. Meski pada kenyataannya, kita tak pernah saling bertemu.

Terkadang aku lelah. Aku lelah untuk mengagumi mu dalam semu. Aku ingin sekali berjumpa denganmu. Secara nyata tentunya. Agar perasaan ini tak hanya tinggal di sini. Agar perasaan ini terungkap melalui tatapan mataku kepadamu. Agar perasaan ini mengalir begitu saja tanpa harus aku tutupi lagi.
Perasaan macam apa?
Cinta?
Haha benarkah?
Bagaimana mungkin seseorang yang hanya bertemu dan saling sapa melalui suatu jaringan semu yang disebut internet dapat jatuh cinta dengan kawannya yang ada dalam dunia semu tersebut?
Bagaimana mungkin sebuah benda dua dimensi yang disebut foto itu dapat menjadi salah satu alasan bagaimana cinta itu dapat muncul?
Bagaimana mungkin setiap karakter dalam sajak tweet seseorang dapat membuat jatuh cinta?
Entahlah.

Mungkin karena aku tipe orang plegmatik yang jarang bersosialisasi melalui sebuah pertemuan. Yang hanya terdiam dalam kamar mengurusi blog ku yang usang dan mengenal seseorang melalui berbagai macam sosial media.
Oleh sebab itu, mungkin, aku jatuh cinta padamu.

Aku ingin menyentuhmu. Aku ingin dengar suaramu. Aku ingin tahu bagaimana sifatmu dalam realita. Aku ingin berjalan di sampingmu dan tertawa bersama-sama dengamu. Aku ingin menghabiskan hariku bersama denganmu. Tidak hanya melalui sebuah percakapan sederhana dibalik dimensi maya, namun juga dalam harimu dan hariku yang sesungguhnya.

Jiwaku beterbangan mencungkil kekhawatiran sesaat. Seakan memanah waktu yang bertengger bersama lumatan dunia kiri dimensi setapak. Haruskah cinta itu timbul dari tatapan mata secara nyata?
Tapi aku percaya, cinta datang melalui berbagai cara yang unik dan tak biasa. Semuanya terjadi begitu saja secara luar biasa.

Salahkah aku yang hanya menggunakan imajinasiku untuk mengagumimu?
Aku ingin dapat menggenggam cinta darimu yang aku peroleh melalui layar kaca bercahaya yang mempertemukan aku dan kamu.
Mungkinkah?

Mungkin, Aku Terlalu Berharap Banyak

Senin, 14 April 2014


Mungkin, aku terlalu berharap banyak. Rasanya semua terjadi begitu cepat. Kita berkenalan. Lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku.
Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kasong di hatiku. Tak ada lagi percakapan yang biasa. Seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa.
Entahlah. Perasaan ini tumbuh melebihi batas yang aku tahu. aku menjadi takut kehilanganmu.
Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tak ada di sampingku.

Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku. Ada sebab yang tak kumengerti sedikutpun. Aku sulit jauh darimu. Aku membutuhkanmu seperti aku butuh darah. Nafasku akan tercekat jika Sosokmu hilang dari pandangan mata.

Salahkah jika kamu selalu aku nomorsatukan?
Tapi entah mengapa sikapmu tak seperti sikapku.
Perhatianmu tak sedalam perhatianku.
Tatapanmu tak setajam tatapan mataku.

Adakah kesalahan di antara aku dan kamu?
Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?
Mungkin kamu belum terlalu paham tentang perasaanku karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku.
Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu?
aku selalu kehilangan kamu dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta ijin.
Minta ijin?
Memangnya aku siapa?
Kekasihmu?
Bodoh!
Tolol!

Hadir dalam mimpimupun aku sudah bersyukur. Apalagi bisa menjadi milikmu seutuhnya.
Mungkinkah?
Janjimu terlalu banyak hingga aku lupa menghitung yang mana saja yang belum kamu tepati.
Begitu sering kamu menyakiti tapi kumaafkan lagi berkali-kali.
Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu.
Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus.
Seberapa tidak peningkah aku?
Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan juga kau tinggalkan?
Apakah aku  tak berharga dimatamu?
Apakah aku hanya boneka yang selalu ikut aturanmu?
Dimana hatimu?
Siapakah orang yang telah beruntung karena  memiliki hatimu?
Mungkin semua memang salahku yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman.
Salahkah jika perasaanku tumbuh melebihi batas kewajaran?
Aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman. Tapi juga sebagai seseorang yang begitu bernilai dalam hidupku.
Namun semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin aku memang terlalu banyak berharap. Dan pasti kamu tak sadar jika aku berbohong aku bisa begitu mudah melupakanmu. Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian.

Diangkat dari soundcloud: Musikalisasi Puisi by Dwitasari


tanda kutip, Aku "Bahagia" (:

Jumat, 11 April 2014


Tersenyum.
Turut bahagia.
Ikut merasakan indahnya dunia.
Aku senang. Sungguh senang. Melihatmu berdua dengan dirinya (:
Dia yang jauh lebih sempurna dari diriku.
Dia pantas mendapatkanmu.
Dia pantas menerima cinta dari hatimu.
Dia pantas menjadi sumber dari kebahagiaanmu.
Dia pantas. Memang sangat pantas menjadi kekasihmu. Perempuan yang ada dibalik senyum manismu.
Dunia ini, terasa milik kalian berdua. Aku turut merasakan kebahagiaan kalian dari belakang panggung sandiwara. Aku ikut menikmati tawa dan canda kalian berdua.
Kali ini, aku tak mampu menulis banyak tentangmu. Maksudku, tentang kamu dan dia yang kini telah bersama menjalani detik demi detik kehidupan. Hidup kalian telah bahagia di luar sana. Aku ikut merasakan indahnya hidup;tanpa dirimu.
Intinya, aku bahagia (:

Untukmu, yang telah pergi.

Rabu, 09 April 2014

Dulu aku mengira bahwa aku tak bisa hidup tanpamu.
Aku telah berpikir diriku tidak akan bisa menjalani hariku tanpa dirimu.
Saat kau pergi dari sini, kerapuhan hatiku merasuk ke setiap tubuh dan jiwaku yang membuatku semakin merasa tak berdaya.
Kamu yang telah bahagia di luar sana. Yang sempat ku miliki dan dengan enggan ku lepas dari genggaman tanganku sendiri.

Omong kosong!

Saat ini aku menyadari betapa bodohnya diriku yang pernah beranggapan bahwa "aku tak bisa hidup tanpamu". Perlahan kesedihanku saat itu ditelan oleh sang waktu. Semakin hari, diriku diajarkan oleh sang waktu untuk menjadi gadis yang tegar. Tanpa air mata kesedihan. Senyuman yang datang dari hati. Iya, hal ini wajib ku lakukan sejak kepergianmu dahulu.
Hari kian berganti, bulan demi bulan kujalani tanpa dirimu. Dan di sinilah aku saat ini. Aku masih hidup, kan? Ternyata memang, hidupku tidak tergantung kamu. Berjalan sendiripun aku mampu. Tak ada yang menopang. Tak ada yang mengusap setiap air mata yang terjatuh. Tak ada yang enggan meninggalkanku sendirian. Tapi siapa peduli? Aku sudah dewasa. Aku sudah bisa mengurusi diriku sendiri tanpa harus diingatkan jika ingin melakukan sesuatu.
Lagipula, aku punya sahabat. Dia lebih mengerti aku daripada dirimu. Dia jauh lebih memperhatikan setiap langkah hidupku dibanding sosokmu. Selain itu, aku juga punya keluarga yang utuh. Yang selalu ada buatku. Yang selalu berjuang demi kebaikan diriku.

Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang jauh lebih baik dari dirimu. Seperti kata kak dwitasari, "jika Tuhan mengambil emas darimu maka Ia akan menggantinya dengan berlian". Aku percaya itu. Jadi, tak perlu lagi mengais masa lalu. Karena ada sesuatu yang jauh lebih indah dibalik hari esok.

Fatamorgana Cinta dalam Realita

Senin, 31 Maret 2014

Saat aku tau cinta itu datang.
Datang menghampiri titik terlemahku.
Mengetuk hatiku dengan perlahan
Menyapaku dengan segaris senyuman.
Menyentuh hatiku dengan kasih sayang.
dan mengenalku dengan kepedulian.

Tapi apakah memang cinta itu datang?
Atau hanya pembiasan dari anganku yang semu?

 "Tak seharusnya aku seperti ini. Kesalahanku berdasarkan fatamorgana cinta dalam realita."

Aku menghempaskan nafasku secara perlahan sambil menatap indahnya bintang malam ditemani secangkir teh hangat. Kibasan angin yang membawa jiwa ini larut laun bersamanya membuat malamku terasa lebih sempurna. Alunan musik jazz yang tak kunjung berhenti sejak sore tadi menenangkan perasaanku; melupakan segala rasa gundah di hati untuk sementara, mengubahnya menjadi suatu estetika dalam sebuah dinamika.

Dalam tidur aku bermimpi tentangmu. Kau yang seharusnya tak aku impikan. Entah apa yang membawamu ke dalam dunia alam bawah sadarku. Namun jujur, aku sangat menyukainya. Aku bahkan tak ingin terbangun saat kau berperan sebagai orang yang begitu penting di dalam mimpiku. Wajahmu yang polos, dihiasi oleh segaris senyum yang menawan.

Dirimu telah lama hadir di sini. Di hatiku. Tanpa sebab kau larutkan perasaan ini dan mengaduknya bersamaan dengan suatu kelimpahan tak terhentikan yang disebut cinta. Semakin lama, semakin meluap. Perasaan ini memang tak bisa aku tutupi lagi. Aku harus mengutarakannya padamu. Aku sudah cukup bosan dengan semua ini; menjadi pengagummu dalam bisu.

Keraguan dan kegelisahan menggerutu bersamaan di dalam jiwaku. Ketakutan menghantui pikiranku sehingga membuatnya semakin tak berdaya bahkan tak mampu lagi untuk berpikir. Apa yang aku khawatirkan? Apa sensasi cinta memang mengerikan seperti ini? Lalu apa kata orang-orang tentang indahnya cinta?

Mungkin aku takut jika cintaku akan tak terbalaskan. Karena memang hal itu yang aku lihat dari matamu. Saat ku berusaha untuk mencari perhatianmu, kau seakan-akan tak peduli terhadap segala kode yang ku lontarkan di hadapan dirimu. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan saat itu adalah terdiam dalam pengabaianmu.

Aku ikut tersenyum dalam hati ketika melihatmu tertawa lepas dari kejauhan. Kebahagiaanmu seakan-akan turut mengalir dalam jiwaku memberiku semangat yang baru untuk menjalani hariku. Membawa keindahan dunia masuk ke dalam kehidupanku. Walau di sisi lain, aku harus terluka karena senyummu hanya dapat ku genggam dalam alam bawah sadarku.


Terlalu sering memikirkanmu.
Terlalu sayang.
Terlalu mencintaimu.
Terlalu sering membayangkan dirimu ada di sini.
Cinta dalam semu. Menyakitkan. Fatamorgama cinta. Hatiku. Kamu.
Menyedihkan.

Hatiku selalu berbisik bahwa cintaku memang tak perlu menuntut balasan darimu. Namun serangan si logika yang menghantui jiwaku beranggapan bahwa dirimu harus ada dalam genggamku. Bagi si logika, feedback itu penting.

Yang mana harus aku pilih?

Terkadang aku sadar bahwa memaksakan kehendakmu untuk menjadi milikku adalah suatu perbuatan yang egois. Saat hatiku bicara, aku selalu menanggapinya dengan seksama serta menjalani segala hal yang menurut hatiku harus dilakukan. Tapi aku harus mengorbankan sesuatu yang sangat penting dalam diriku; Hatiku.

Tebasan air mata mengalir dalam kebisuan. Cintaku. Aku sendiri yang tahu. Genggaman seiris senyum semu dalam alam bawah sadarku meretakkan hati yang harusnya bahagia ketika merasakan indahnya cinta.

Cinta tanpa feedback. Sakit bukan?

Saat Seorang Plegmatik Jatuh Cinta

Sabtu, 29 Maret 2014

Kertas usang memenuhi meja belajarku. Pena dan pensil berserakan begitu saja ditemani oleh rautan pensil yang membuat semuanya terlihat sangat kacau. Lemari buku ku terdapat novel berserakan. Di atas kasurku terdapat sebuah gitar kesayanganku dan laptop yang selalu menjadi sahabatku.
Ya seperti inilah keseharianku.

Ada yang tau aku tipe orang seperti apa?


Aku hanya seorang gadis biasa namun tak sama dengan gadis lain. Mungkin kalimat ini membingungkan, tapi yang jelas aku memiliki suatu sisi yang 'berbeda' dengan mereka.
Ketika mereka semua (anak-anak remaja jaman sekarang) ceria menghabiskan hari-harinya dengan hangout bersama teman-teman tercintanya, hal itu tak terjadi padaku. Aku lebih suka untuk diam di kamar seharian, bermain gitar sambil mendengarkan alunan musik karya seniman-seniman favoritku. Aku lebih suka untuk menghabiskan waktuku di dalam kamar. Bersama laptop ku yang dapat membawa aku keliling dunia hanya dengan meng-klik satu kali.

Aku lebih suka mengenali seseorang jauh lebih dalam melalui komunikasi lewat sosial media. Aku bahkan hampir memahami setiap karakter atau kepribadian yang mereka miliki.

Di dunia nyata, aku lebih sering terdiam. Berbicara hanya saja ada keperluan atau kepentingan. Aku selalu menampilkan wajah 'flat' atau biasa dalam segala keadaan. Aku jarang menunjukkan rasa bahagiaku, aku jarang menunjukkan rasa kesedihanku. Yang mereka tahu, aku tidak pernah merasakannya. Mereka hanya mengenalku melalui sikap dinginku kepada orang-orang yang menunjukkan bahwa aku adalah seseorang yang tak pernah merasakan indahnya dunia.

Namun mereka semua tak tahu apa yang terjadi dalam hati ini. Karena terbiasa akan sikapku, mereka semua hampir lupa bahwa aku juga manusia yang bisa merasakan cinta, kasih sayang, kesedihan maupun kebencian.


Aku sudah tahu bahwa aku ini memiliki kepribadian jenis 'plegmatik'. Dimana plegmatik merupakan orang yang tertutup yang sangat diam, tidak menuntut kalem dan lambat. Mereka jarang mengeluarkan ide-ide atau perasaan jika mereka tidak yakin mereka tidak akan melukai atau menyakiti orang lain. Orang Plegmatik merupakan teman yang menyenangkan dan tidak menakutkan, dua dari kelemahan mereka yang utama adalah rasa takut dan egois, walaupun mereka menunjukkan sikap ini dengan sangat diplomatis sehingga bahkan beberapa teman baik mereka tidak mengenal  mereka. Tipe plegmatik adalah orang yang cenderung tenang, dari luar cenderung tidak beremosi, tidak menampakkan perasaan sedih atau senang. Naik turun emosinya itu tidak nampak dengan jelas. Orang ini memang cenderung bisa menguasai dirinya dengan cukup baik, ia intorspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya.

Sudah jelas, bukan?
Jadi mungkin kepribadianku dapat digambarkan melalui tulisan di atas.
Kalian bisa bayangkan apabila tipe orang seperi aku jatuh cinta? Apa yang paling pertama ada di pikiran kalian tentang hal ini?

Aku yakin, sebagian besar dari kalian menganggap tipe sepertiku bukanlah tipe orang 'penyayang'. Namun tidaklah kau melihat bahwa aku manusia, aku punya hati, dan aku juga berhak untuk merasakan cinta?

Salahkah aku?

Awalnya aku hanya tertarik melihat matanya, namun saat itu ku rasakan hal yang berbeda dari biasanya. Aku merasakan denyut nadiku bererak semakin cepat, titik ujung jemariku bergemetaran hingga terlontar dalam pikiranku bahwa aku-telah-jatuh-cinta-padanya. Ini sensasi pertama kali yang terjadi dalam hidupku. Selama enam belas tahun ada di dunia, aku baru merasakan ini saat bertemu dengannya. Aku paham, Dia-yang-aku-cintai itu memiliki kepribadian yang jauh berbeda dengan diriku. Dia ceria, mampu bersosialisasi dan ramah dengan semua orang. Bahkan Ia mengenali hampir seluruh warga di sekolah kami. Dia tak terlalu menarik dari segi penampilan, tak juga dalam hal berbakat. Yang aku tahu, satu-satunya kelebihan yang Ia miliki adalah sikap ramahnya dengan semua orang. Senyum yang sering terlontar dari bibirnya sangatlah indah dan membuat nafasku terhenti sejenak untuk memperhatikan gerak geriknya. Matanya mengingatkanku akan Ibuku. Semuanya tampak sempurna bukan karena dirinya diciptakan sempurna, tetapi karena cintaku yang membuatnya terlihat sempurna di mataku.  Namun ini bukanlah alasan mengapa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku tak memiliki alasan yang jelas untuk mencintainya. Yang aku tahu, rasa ini muncul begitu saja tanpa ada alasan yang menuntut hatiku untuk memilihnya.

Sebagai seorang wanita, aku tak akan memulai lebih awal. Aku hanya perlu menunggu hal yang tidak pasti. Hal yang mungkin termasuk dalam kategori 'semu' di hidupku. Bagaimana mungkin seseorang yang dikenal begitu banyak orang, yang berperan aktif di kalangan seusianya jatuh cinta dengan diriku yang bukan siapa-siapa. Apalagi dengan adanya suatu sisi yang 'berbeda' dalam diriku karena aku adalah seorang yang jauh dari kata 'sama' dengan dirinya. Tapi aku percaya, cinta yang sempurna bukanlah karena memiliki banyak kesamaan, namun karena dapat mempersatukan segala perbedaan menjadi suatu alkulturasi yang indah secara nyata. Tapi apadaya, haruskah aku melontarkan kode-kode untuknya agar dia paham akan perasaanku? Namun aku bukanlah tipe orang yang dapat melakukan hal tersebut. Aku tak biasa bersikap peduli dengan hal-hal seperti itu.

Aku lebih suka mengangumimu dalam diam, dari kejauhan menatap matamu dengan penuh harapan yang semu. Aku yakin bahwa kau hanya dapat ku miliki di dalam mimpiku, di dalam khayalan semuku yang tak akan terwujud selamanya. Karena bagaimana mungkin seseorang dengan tipe karakter 'sanguin' sepertimu jatuh hati pada seorang 'plegmatik' sepertiku?

Kata banyak orang, tipe karakter yang berlawanan memang tak mempengaruhi suatu cinta yang timbul dalam hati seseorang. Namun mereka tak pernah tahu bagaimana kenyataannya. Mereka hanya berbicara tanpa harus menjadi pelaku dalam apa yang mereka bicarakan. Itu hal yang sangat mudah yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Lalu tidakkah kau lihat diriku sebagai pelakunya? Ini hidupku. Pengalaman cintaku yang aku alami sendiri bagaimana alur ceritanya.

Kisah hidupku tak seperti novel-novel yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang saling berbeda latar belakang dan kepribadian lalu mempunyai kisah cinta yang begitu sempurna. Aku tak seperti itu. Aku dan dia itu berbeda. Semua ini salahku. Aku yang seharusnya tak jatuh cinta pada dirimu yang hanya berkeliaran semu dalam angan-anganku.

Friendzoned

Minggu, 16 Maret 2014

"Haruskah keadaan kita sekarang menjadi seperti ini? Akankah semuanya kembali seperti dahulu saat semuanya masih baik-baik saja? Aku ingin hariku terisi penuh oleh tawa indahmu lagi, tak hanya tawamu, melainkan kesedihanmu juga mengalir bersama air mataku"


Aku tersenyum dengan wajah yang sedikit canggung saat melintas di hadapan mu. Dan kau membalasnya dengan raut wajah tak berekspresi yang hanya menggerakkan lesung pipimu tanpa disengaja.

Ada apa dengan kita?


Kisah ini dimulai saat aku mulai mengenalmu. Tak terlalu lama, namun selama aku mengenalmu kita begitu akrab. Aku masih ingat di mana kita pertama kali bertemu, di mana aku mulai tertarik menyaksikan tingkahmu yang begitu konyol. Sederhana namun indah jika aku mengingatnya.

Awalnya aku kurang begitu peduli terhadapmu. Dirimu tak terlalu penting buatku. Kita hanya teman, atau bahkan hanya kenal satu sama lain tanpa hubungan dekat seperti seorang sahabat.
Tapi lihatlah apa yang waktu telah lakukan padaku. Pada kita lebih tepatnya. Entah karena kesamaan hobby atau kesamaan dalam suatu hal yang membawa kita menjadi semakin dekat. Membuat kau dan aku terjalin dalam suatu konteks ikatan tak resmi yang disebut persahabatan. Hariku penuh dengan candamu. Sepiku terisi oleh gurauan manismu. Di sini kutemukan kebahagiaan yang begitu sederhana. Sesederhana bermain bersamamu. Atau lebih sederhana lagi; bebicara bersamamu. Aku merasa hariku tak lengkap apabila kau tak hadir di sini. Ada sesuatu yang 'janggal' saat aku tak melihatmu dalam seharipun. Mungkin ini karena kebiasaanku. Aku menggantungkan hari-hariku padamu. Semangatku tergantung kamu.

Dari awal, belum pernah aku berpikir bahwa kau akan menjadi seseorang yang bisa dikatakan 'penting' dalam hidupku. Saat pertama ku tatap matamu lebih dalam dari biasanya, di sini jantungku berhenti berdetak. Bibir ku tak mampu berkata-kata seolah-olah ada sesuatu yang aku temukan di dalam bola matamu. Bukan bintang maupun pelangi, namun lebih dari itu; kebahagiaan.
Setelah sekian lama aku tak merasakannya, akhirnya aku menemukan di dalam matamu; dalam dirimu. Entah apa yang membuat perasaan ku padamu mulai aneh semenjak kejadian ini. Aku merasakan ada sesuatu yang 'aneh' dalam diriku. Aku merasakan kehangatan jika aku berada di dekatmu. Sungguh jiwaku terasa lebih hidup apabila mendengar suaramu.
Aku mulai curiga pada diriku sendiri. Apakah aku mulai jatuh cinta pada dirimu? Entahlah. Siapa peduli.

Aku dan kamu. Kita sahabat kan?
Tapi apa jadinya jika satu di antara kita menyembunyikan sesuatu yang disebut 'cinta'? Bukankah kita sempat berkata satu sama lain untuk tidak akan menutup-nutupi segala hal dalam bentuk apapun itu?
Tapi siapa peduli? Lagipula belum ada yang tahu tentang perasaan yang muncul ini. Terkadang aku bimbang. Aku sangat menyayangimu sebagai sahabatku namun mengapa rasa sayang ini perlahan mulai berubah?
Aku benci dan ingin sekali membunuh diriku. Ada apa denganku? Hey! please friends, lover or nothing! Tiba-tiba slogan sederhana itu merasuk ke dalam pikiranku yang membuatku enggan untuk berkata-kata. Aku hanya bersuara dalam hati: Jika Ia adalah orang yang aku cinta sekaligus sahabatku, apa jadinya hubungan persahabatanku? Apa semua akan berubah menjadi suatu yang jauh lebih manis dari sebuah persahabatan? Atau malah membuatnya semakin buruk? Dan jikalau Ia tidak memiliki rasa yang sama sepertiku, akankah kita dapat bersahabat seperti dulu lagi?

Sejenak aku menjernihkan pikiranku. Mengganti semua keresahan menjadi sebuah kesegaran. Menghirup oksigen selagi aku masih bisa merasakannya. Mengecap asa yang tak terungkapkan serta mengolahnya dengan penuh pertimbangan di dalam hati dan pikiran.  Titik ujung jemariku bergemetar, aku kebingungan. Somebody please help me!

Aku terdiam dalam bisu saat aku sedang duduk di sebelahmu. Semuanya terasa berbeda. Dan kamu pun menyadarinya serta bertanya padaku mengapa aku mendadak menjadi orang yang lebih pendiam dari biasanya. Karena memang aku tak seperti biasanya. Aku yang biasanya suka tertawa terlepas seiring kamu mencelotehkan gurauanmu. Suasana pun menjadi lebih canggung. Kamu bertanya padaku sambil mengambil perhatianku dengan cara membuat ekspresi aneh di wajahmu. Hal ini membuatku bersyukur karena masih bisa memilikimu; meski hanya sebagai sahabat.

Buku ku penuh tertulis namamu. Disertai oleh bentuk-bentuk hati dan beberapa gambaran lucu bak sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Saat inilah, karena kecerobohan dan kurang kepedulianku terhadap hal kecil seperti buku. Aku meninggalkannya saja denganmu. Tanpa pikir panjang dan tanpa ku sadari. Aku langsung meninggalkannya begitu saja. Apa yang akan terjadi saat kau membuka dan membaca tulisanku tentang perasaanku yang sesungguhnya terhadapmu? Entahlah.

***

Kau sedang berjalan menyusuri koridor sekolah. Menatapku dengan seksama dari kejauhan dan berharap bahwa kau tidak salah orang. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahmu saat membaca dan melihat semuanya itu kemarin. Namun kamu mendekat dan tanpa basa-basi kau mengembalikan buku ku seakan-akan aku telah melakukan hal yang begitu kejam terhadapmu. Ada ekspresi yang beda dari biasanya dalam setiap raut wajahmu yang muncul di hadapanku. Canggung. Iya. Satu kata sejuta arti.
Sesungguhnya aku mengerti dirimu. Aku tahu apa yang membuatmu menjadi secanggung ini saat bertemu denganku. Apa yang membuat semua ini menjadi seperti ini. Apa yang membuat kita semakin menjauh. Salahkah perasaanku padamu? Aku paham bahwa seharusnya aku tak jatuh cinta padamu apalagi mengungkapkannya walau dengan cara yang bahkan aku sendiri tak menyadarinya. Dengan kata lain 'tak sengaja'.

Waktu kian berlalu, Kau dan aku kini bukanlah sahabat lagi. Bukan musuh. Hanya saja berhenti menghabiskan waktu bersama seperti dulu.

Kaku. Itu yang aku rasakan apabila bertemu atau berpapasan denganmu. Kita bahkan sudah lama tak saling berkomunikasi baik lewat dunia nyata maupun sosial media. Kamu yang biasanya memenuhi tab mention ku setiap malam, kamu yang selalu menghubungi aku saat sedang dalam keadaan bosan. Namun kini? kau bisa merasakannya, sahabatku? kita tak lagi sepasang sahabat karib yang sering menghabiskan waktu berdua. Tak ada lagi berlarian sambil tertawa sakin riangnya bersama dirimu. Tak ada lagi yang menghapus air mataku serta memotivasi hidupku saat diriku sedang terpuruk.
Karena beginilah peran seorang sahabat.

Aku merindukan kamu. Lebih tepatnya kamu yang dulu. Andai waktu dapat diputar maka aku lebih memilih untuk tidak ceroboh waktu itu. Aku lebih memilih untuk tidak pernah jatuh cinta padamu jika memang kau ditakdirkan untuk sekedar menjadi sahabatku. Atau bahkan aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenalmu daripada harus merasakan perpisahan kita yang begitu pahit.
Karena seperti perkataanku sebelumnya, bahagiaku tergantung padamu.