Unwanted Me

Senin, 08 September 2014

Ketika cinta itu datang dengan tiba-tiba. Menghayutkanku dalam indahnya sebuah percakapan sederhana. Hingga larut petang sampai hari beganti ku tak kunjung jenuh dengan percakapan sederhana itu.

Masih ku ingat saat pertama kali kau menggenggam tanganku. Dengan nada penuh kasih sayang kau berkata bahwa kita ini aneh. Iya aneh, kita saling cinta, tapi lebih memilih untuk tetap menjadi sahabat, karena takut kehilangan.

Karena kita tahu, peluang untuk saling kehilangan sangatlah besar jika kita mengambil tindakan untuk meneruskan hubungan kita ke arah yang lebih serius. Karena kita tahu, menjalin sebuah hubungan hanya akan membuat kita saling menyakiti.

Tapi pada akhirnya, kita melakukan hal yang memang benar-benar kita takuti. Kita memang tak terikat oleh sebuah status. Namun, melalui cara kita saling menatap, cara kita bertingkah maupun berbicara, semuanya telah menandakan bahwa kita memang tak bisa hanya sekedar menjadi sahabat. Kita memang tak bisa lari dari kenyataan; jika kita saling mencintai.

Sejak saat itu, munculah berbagai macam masalah di antara kita yang tak ada bedanya dengan masalah yang akan terjadi jika kita menjalin sebuah status sebagai sepasang kekasih. Aku benci hal ini. Namun, aku juga tak ingin jauh darimu. Karena banyak pihak yang tidak menginginkan kebersamaan kita. Banyak pihak yang begitu membutuhkanku dan juga membutuhkanmu secara pribadi.

Apa aku salah mencintaimu?
Walaupun aku tak bisa memilikimu. Apa itu salah?
Aku tak peduli seberat apa beban yang aku pikul jika aku melihatmu dengan orang lain. Aku tak peduli seberapa besar goresan luka dalam hatiku ketika aku memperoleh pengabaian darimu belakangan ini.
Aku tau semuanya sudah berubah dan aku berusaha berlari dari kenyataan bahwa aku memang ditakdirkan untuk sendiri.
Melewati segala yang ada di depan mata tanpa didampingi siapapun.
Segala resiko biar aku yang tanggung sendiri.

Aku bersalah karena telah menyia-nyiakan orang yang peduli padaku. Sahabat-sahabatku. Tapi mereka tak dapat menerima bahwa aku mencintaimu. Entah apa yang mereka pikirkan, aku tak paham.

Aku merasa seperti orang bodoh. Kamu berniat menjauhiku karena kau tidak ingin merusak hubunganku dengan sahabat-sahabatku. Dan para sahabatku juga memilih untuk menjauhiku karena mereka tak ingin merusak hubunganku denganmu. Padahal, kau juga sahabatku, kan? Maksudku, kita belum resmi terikat oleh sebuah status karena ketakutan kita.

Dapatkah kalian semua tetap menjadi sahabatku? Saat aku sedang terpuruk seperti ini, yang aku inginkan bukanlah kalian yang saling berlomba untuk menjauhiku karena mementingkan hubunganku dengan orang lain. Tapi aku membutuhkan kalian semua untuk membangkitkanku dan membantuku untuk menyelesaikan masalahku yang rumit ini. Tapi tak ada satupun dari kalian yang mengerti. Entah sahabat-sahabatku maupun kau, sahabat yang aku cintai. Tak ada yang mengerti.

Sejujurnya aku tak ingin kehilangan kalian. Sesungguhnya aku tak dapat memilih satu di antara kalian. Kalian memang penting di hidupku. Tapi maaf, aku tak bisa memilih. Aku benci diriku sendiri.

Daripada harus sibuk memilih kalian yang sedang berlomba untuk menjauh dariku, lebih baik aku hidup sendiri. Tanpa ada yang peduli. Ya, karena inilah aku. Bella yang individualistis dan tidak diinginkan.

Friendship or Love?

Minggu, 27 Juli 2014

Kamu adalah orang yang telah lama hinggap di hatiku. Kamu adalah pribadi dimana diriku bisa merasa aman. Di dekatmu, aku mampu menemukan siapa diriku sebenarnya. Kamu. Aku. Kita. Iya ini kisah tentang kita.

Tulisan ini mungkin tak memiliki kesan yang begitu menarik. Namun ini semua kutulis menggunakan sudut pandang diriku sendiri. Diriku yang hanya seorang gadis remaja yang sedang berusaha untuk menemukan jati diriku.
Dengan hati yang tulus, jemari ini kian mengetik dengan perlahan selagi memikirkan seseorang yang hadir dan tiba-tiba berubah menjadi seorang yang begitu berarti dalam hidupku. Yang tak lain adalah: Kamu.

Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Aku menyalakan musik sambil bermain dengan gadgedku. Tiupan angin yang menusuk jiwa membuatku harus berselimut sepanjang malam ini. Sambil memikirkan tentang hidup dan semua perjalanan yang telah aku lalui, aku sadar bahwa banyak hal yang harus aku syukuri. Mulai dari hal kecil misalnya. Sampai hal-hal yang begitu luar biasa di hidupku. Aku bersyukur.

Sahabat. Kata itu sudah tidak asing lagi kan? Pernahkah kalian memiliki seorang sahabat? Mereka sangat berarti, bukan? Lalu, apakah kalian takut kehilangan sahabat kalian? Takutkah kalian apabila suatu saat seseorang yang kau anggap sahabatmu itu akan menjauhimu. Meninggalkanmu saat kamu sedang membutuhkannya. Apalagi sampai melupakanmu.
Itu merupakan mimpi buruk bagi banyak orang.
Dan pernahkah kalian memiliki sahabat lawan jenis? Jika pernah, pernahkah kalian diam-diam mencintai sahabat kalian melebihi batas sewajarnya? Apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi seperti itu? Di satu sisi, kamu mencintainya. Namun di sisi lain, kamu sangat ingin terus menjadi sahabatnya.

Dilema ini memang sudah tidak jarang lagi. Menganggap seseorang begitu berarti hingga dituntut oleh keegoisanku sendiri. Iya, aku mencintaimu melebihi seorang sahabat. Aku benci perasaan ini. Karena seperti apa yang aku katakan, aku tak ingin persahabatan ini berujung kita saling menyakiti karena adanya perasaan cinta romansa macam ini.

Perasaan ini memang menyiksaku. Membunuhku secara perlahan. Menutup mata batinku hingga apa yang ada di pikiranku saat aku mulai membuka mataku di pagi hari adalah kamu.

Sejujurnya, hati ini ingin sekali dapat memilikimu. Raga ini ingin sekali dapat memelukmu, namun aku sadar, bahwa cinta memang tak harus memiliki. Memelukmu tidak hanya dapat dilakukan saat berada di dekatmu. Aku dapat memelukmu dalam doaku. Terbang dalam mimpiku, hanyut dalam anganku, bersamamu; sahabatku.

Aku memang lebih memilih untuk terus menjadi sahabatmu, daripada menjadi kekasihmu. Karena aku yakin, dengan cara itu aku akan terus dapat bersama-sama denganmu. Tanpa saling menyakiti satu sama lain, karena aku takut kehilanganmu. Aku takut apabila aku menjadi kekasihmu, itu tidak akan bertahan lama, yang ada pada akhirnya adalah kita saling membenci, saling berpura-pura untuk tidak saling mengenal, menjadi orang asing bagimu. Aku tak ingin hal itu terjadi.

Karena itu, biarlah hanya kita berdua yang mengetahui hal ini. Aku dan Kamu. Kita saling mencintai, namun tidak berani untuk melanjutkannya ke hubungan yang lebih serius karena takut kehilangan.

Biarlah aku menjadi pendengarmu yang setia, menjadi tempat curhatmu sepanjang malam, menjadi sandaranmu ketika kau lelah akan hidup ini, membantumu mencari solusi akan masalah yang kau alami, bercerita tentang hidup kita berdua lebih dalam dari biasanya. Jangan biarkan ada hal yang harus kita tutupi di antara kita. Karena kau adalah sahabatku. Akan tetap menjadi sahabatku selamanya. Tak peduli apa yang terjadi, kita akan selalu menjadi sahabat walaupun dalam hati, kita saling mencintai.

Hanya untuk melihatmu bahagia.

Jumat, 27 Juni 2014

Melukiskan cahaya cinta dalam kanvas persahabatan yang telah terjadi di antara kita.
Merajut kasih sayang dan membangun kebahagiaan baru yang berbeda dari sebelumnya.
Antara kita kini tak lagi sama, semenjak hal gila yang disebut cinta itu muncul dalam persahabatan kita. Lebih tepatnya, ini salahku.
Salahku yang diam-diam mencintaimu tanpa alasan.

Aku yang memendam.
Aku yang menutupi semua tentang perasaan yang timbul ini.
Perasaan yang begitu sensitif.
Sangat bahaya apabila diungkapkan.
Pada akhirnya, terungkap.


Kisah cinta yang aku alami begitu rumit. Iya, aku mencintaimu. Bahkan melebihi apapun. Tak pernah aku merasakan cinta sedalam ini. Aku ingin selalu ada untukmu. Hatiku selalu berbisik tentang dirimu. Pikiranku selalu mengarah padamu. Tapi apadaya? Semua yang aku rasakan ini begitu rumit. Kamu orang yang aku cintai sekaligus sahabatku sendiri. Sesungguhnya aku tak ingin semua rasa ini mengalir. Rasa yang menyiksa diriku sendiri. Yang membuat aku selalu terpuruk. Karena sudah jelas, cintamu bukan untukku.

Aku tak peduli ketika hatimu hanya diperuntukkan untuk dia yang lebih pantas memperolehnya. Aku tak peduli jika cintaku tak terbalaskan. Aku tak peduli seberapa dalam luka yang aku rasakan. Aku tak peduli hatiku yang semakin rapuh untuk mencintaimu. Siapa gerangan yang mengatakan cinta itu indah? Setahuku, cinta itu menyakitkan. Menyiksa diriku sendiri. Namun aku tak bisa berhenti mencintaimu. Entah mengapa, hatiku selalu menerimamu. Apapun yang terjadi padamu, aku selalu peduli. Aku ingin tahu, apa yang membuatku bertahan untuk mencintaimu meski jauh di dalam hati kecilku; Aku Terluka.

Aku rindu masa persahabatan kita. Saat hatiku belum menyimpan rasa padamu. Aku benci perasaan yang timbul pada diriku ini. Ingin ku menghapusnya, namun salahku, aku tak bisa. Perasaan ini begitu melekat. Sulit tuk dihempaskan. Apalagi dihapuskan. Terlalu peduli padamu. Terlalu mencintaimu. Melebihi perasaan seorang pada sahabat. Bodohnya aku.

Seiring berjalannya waktu, aku mengerti bahwa cinta itu memang tak harus memiliki. Mungkin ini terdengar seperti semboyan kuno yang bagi kebanyakan orang, hal ini adalah omong kosong. Namun, bagiku cinta itu memang tak harus memiliki. Bukan berarti aku merelakanmu dengan orang lain karena rasa cintaku yang tak dalam untukmu. Tapi, karena cinta inilah aku merelakanmu. Karena cinta dan kepedulianku terhadap kebahagiaanmu. Hati ini sangat bahagia melihatmu bahagia, dengan cara apapun itu. Meski gantinya adalah aku harus mengorbankan perasaanku sendiri. Walau nyatanya, aku harus terluka hanya untuk melihatmu bahagia. Oleh karena itulah aku harus mampu untuk menengadah ke langit. Menatap semua asa yang aku limpahkan kepadamu. Menggores kesepian demi kebahagiaanmu.

Orang bodoh mana yang rela melukai hatinya untuk orang lain? Sebodoh itukah aku?
Sedalam apa perasaan cinta yang aku miliki hingga aku tak peduli seberapa perihnya perasaan ini? Seperti apa cinta itu? Haruskah aku merasakan semua kepedihan ini seorang diri?
Hanya untuk melihatmu bahagia ku terkapar menahan sakit. Setiap hari. Setiap waktu. Dimanapun itu. Namun melihatmu bahagia merupakan obat bagi luka hatiku. Karena senyummu mampu mencabut duri yang menancap begitu dalam di hatiku. Tawamu mampu menghapuskan air mataku walaupun secara tidak langsung. Kebahagiaanmu mampu merubah hujan dalam hatiku menjadi pelangi yang menerangi dan membuat diriku menjadi ikut bahagia melihatmu.



Loving you painfully

Jumat, 20 Juni 2014

Entah sejak kapan rasa ini mulai muncul.
Namun aku terlalu takut untuk mengutarakannya.
Iya, aku cinta padamu.
Begitu sakit untuk mengatakan ini.
Karena kamu sudah bahagia dengan dirinya.

Terkapar aku di sini melihatmu.
Menentang semua rasa indah yang kalian rasakan.
Dengan hati yang tergores luka.
Hanya dalam diam ku berbisik.
Seperih inikah cinta itu?
Dengan tebasan air mata di sekujur jiwa yang memanas.
Namun hati ini, tetap mencintaimu.
Tak peduli sepedih apa luka yang aku rasakan.

Terlalu sering aku mendegakan curahan hatimu tentang dirinya.
Dan telinga ini selalu siap untuk mendengarkan.
Raga ini selalu ada setiap kamu butuh seseorang untuk berbagi cerita.
Saat tak ada yang peduli lagi padamu; Aku peduli.

Aku hanya ingin satu hal.
Berjanjilah padaku untuk tetap mencintainya sepenuh hatimu.
Jangan pedulikan aku.
Dia pantas untukmu.
Dan aku paham, rasa sayangmu untuknya begitu dalam, kan?

Namun saat dia menyakitimu, kau boleh menopangkan kepalamu di bahuku. Kapanpun.
Padaku kau boleh bercerita apapun sampai larut malam saat tak ada lagi yang bersedia mendengarkanmu.
Seperti biasa, telinga ini akan siap mendengarkan keluh kesahmu.
Aku akan selalu ada untukmu kapanpun kau membutuhkanku.

Kamu. Aku. Dia.

Senin, 26 Mei 2014

Indahnya hari, saat ku terbelenggu dalam bayangmu. Bermimpi kau ada di sini, menemaniku, berbagi cerita dalam hariku. Sosokmu tak luput terbuai di benakku seakan kau adalah bagian dari puzzle hidupku yang hilang. Kau menyerupai seorang yang terkulai secara nyata dalam impianku.

Apa? Impian? Bukankah sangat menyedihkan jika seseorang memiliki mimpi yang tak masuk akal? Maksudku, lihat kamu. Iya kamu. Bagaimana mungkin dalam mimpiku kau hadir sebagai kekasihku padahal dalam dunia nyata, aku tahu jelas, kau tahu jelas, semua orang juga tahu bahwa kamu sudah bahagia dengannya, bukan? Dengan dia yang memiliki paras begitu sempurna bak impian semua wanita. Dia yang sangat indah di matamu.Sedangkan aku? haha. aku cuma segelintir orang yang diam-diam selalu memperhatikanmu. Aku hanya sanggup memilikimu dalam mimpiku. Aku hanya bisa menggenggammu dalam bayangku.
Sekejam inikah kenyataan? Kenyataan bahwa kau tak mungkin dapat aku miliki seutuhnya. Karena sudah jelas, hatimu memilihnya. Kamu sangat mencintainya. Dia juga sangat mencintaimu. Lalu siapakah yang harus disalahkan dalam relasi kita bertiga? Antara kamu, aku dan dia? Aku rasa, akulah penyebabnya. Aku yang seharusnya tak memendam rasa untukmu saat kau memberi perhatian sederhana sebelum kau mulai jatuh cinta padanya. Aku yang dahulu terlalu berharap lebih padamu, yang pernah berpikir bahwa kita berdua akan bersatu untuk saling menyayangi. Seharusnya aku sadar, bahwa segala perhatian, canda, dan tawa yang pernah terjadi di antara kita dulu, bukanlah tanda bahwa kau mencintaiku sebagai kekasihmu, melainkan; sahabatmu.
Dan inilah kita sekarang. Sikapmu yang perlahan mulai berubah saat hidup herdampingan dengannya membuatku rindu akan masa lalu saat kau dan aku terbebas untuk saling bercanda tanpa mengenal waktu. Tapi saat ini, mungkin segala kenangan itu harus aku kubur dalam-dalam. Karena sudah jelas, kau miliknya. Dia milikmu. Dan aku? Mungkin hanya sebagai parasit dalam hubungan kalian berdua.

Biarkan aku pergi, menggenggam hati yang terkoyak kesakitan. Melepaskan segala kepedihan yang selama ini aku sembunyikan di hadapanmu. Aku tak sanggup lagi untuk bertingkah seakan-akan aku baik-baik saja di hadapanmu. Senyumku sendiri telah menyiksa batinku. Menjatuhkan jiwaku ke dalam lubuk kesakitan. Melukis perasaanku dengan goresan luka yang mendalam.

Sekilas Tentang Rasa

Kali ini aku tak ingin banyak menulis. Aku hanya akan meluangkan sedikit waktuku untuk mencurahkan isi hatiku melalui coretan sederhana di sini.

Aku memandangmu dari kejauhan sambil berharap bahwa kau tak akan menyadarinya. Dari sini, aku dapat merasakan hal itu. Hal yang timbul dan berkembang di dalam hatiku. Pikiranku terpenuhi oleh hiruk pikuk dan desisan tak beraturan yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Ibarat seseorang yang mendapat apa yang diingininya; Bahagia.

Tetapi aku tak paham, mengapa bahagia ini muncul begitu saja dalam benakku. Akankah bahagia ini abadi? Atau hanya hinggap sementara dan akan hilang begitu saja dalam waktu yang cepat. Sesungguhnya, aku ingin sekali mempertahankan perasaan macam ini. Tapi bodohnya aku karena tak tahu bagaimana caranya.

Mungkin coretan bodoh ini membuat kalian bingung dengan apa intisari dari sajak yang berserakan dalam blogku. Tapi percayalah, aku juga tak mengerti. Apa mungkin ini semua hanya lelucon? Mungkin.

Salahkah Jika Cinta Timbul Bukan Melalui Sebuah Pertemuan Nyata?

Sabtu, 19 April 2014

Senyummu. Dibalik foto itu.
Celotehanmu.

Hatiku selalu berdebar tiap aku menerima mention darimu. Kamu pengisi ruang-ruang hatiku yang hampa. Kamu mengisi dan memenuhinya dengan suatu kesan sederhana yang disebut kebahagiaan. Lebih tepatnya, kebahagiaan sejak mengenalmu.

Dari awal aku mengenalmu, aku merasa ada yang salah. Aku juga tak tahu apa hal itu. Berawal dari sebuah percakapan sederhana yang mungkin tak ada pentingnya sama sekali bagi semua orang. Dan aku di sini, tersenyum. Entah mengapa aku selalu merasakan dentuman kecil dalam hatiku tiap menatap wajahmu dari belakang layar. Di balik foto itu terdapat senyummu yang selalu mengalihkan duniaku.

Bahagia bagiku bukanlah sesuatu yang rumit. Bahagia bukan tentang bagaimana orang memandangmu, namun bahagia itu tentang bagaimana hatimu senang walaupun melalui hal-hal sederhana. Sesederhana melihat namamu muncul di timeline; apalagi di tab mention ku.
Mungkin aku tertarik padamu. Tapi entahlah. Aku masih ragu akan perasaanku ini. Perasaan yang mulai muncul sejak pada malam itu. Percakapan sederhana. Indah sekali.

Karena sesuatu yang indah bukanlah seperti apa yang kita lihat, namun ini mengenai apa yang kita rasakan. Aku merasa tenang saat aku terdiam di hadapan komputerku, menatap indahnya sinar matamu dibalik hamparan dimensi maya. Mencari tahu semua tentang dirimu melalui ketukan-ketukan kecil oleh jemariku. Aku akan mencoba agar aku mengenalmu jauh lebih dalam. Semampuku. Meski pada kenyataannya, kita tak pernah saling bertemu.

Terkadang aku lelah. Aku lelah untuk mengagumi mu dalam semu. Aku ingin sekali berjumpa denganmu. Secara nyata tentunya. Agar perasaan ini tak hanya tinggal di sini. Agar perasaan ini terungkap melalui tatapan mataku kepadamu. Agar perasaan ini mengalir begitu saja tanpa harus aku tutupi lagi.
Perasaan macam apa?
Cinta?
Haha benarkah?
Bagaimana mungkin seseorang yang hanya bertemu dan saling sapa melalui suatu jaringan semu yang disebut internet dapat jatuh cinta dengan kawannya yang ada dalam dunia semu tersebut?
Bagaimana mungkin sebuah benda dua dimensi yang disebut foto itu dapat menjadi salah satu alasan bagaimana cinta itu dapat muncul?
Bagaimana mungkin setiap karakter dalam sajak tweet seseorang dapat membuat jatuh cinta?
Entahlah.

Mungkin karena aku tipe orang plegmatik yang jarang bersosialisasi melalui sebuah pertemuan. Yang hanya terdiam dalam kamar mengurusi blog ku yang usang dan mengenal seseorang melalui berbagai macam sosial media.
Oleh sebab itu, mungkin, aku jatuh cinta padamu.

Aku ingin menyentuhmu. Aku ingin dengar suaramu. Aku ingin tahu bagaimana sifatmu dalam realita. Aku ingin berjalan di sampingmu dan tertawa bersama-sama dengamu. Aku ingin menghabiskan hariku bersama denganmu. Tidak hanya melalui sebuah percakapan sederhana dibalik dimensi maya, namun juga dalam harimu dan hariku yang sesungguhnya.

Jiwaku beterbangan mencungkil kekhawatiran sesaat. Seakan memanah waktu yang bertengger bersama lumatan dunia kiri dimensi setapak. Haruskah cinta itu timbul dari tatapan mata secara nyata?
Tapi aku percaya, cinta datang melalui berbagai cara yang unik dan tak biasa. Semuanya terjadi begitu saja secara luar biasa.

Salahkah aku yang hanya menggunakan imajinasiku untuk mengagumimu?
Aku ingin dapat menggenggam cinta darimu yang aku peroleh melalui layar kaca bercahaya yang mempertemukan aku dan kamu.
Mungkinkah?