Bella Chrusita

Terkadang kita perlu merubah segala keresahan menjadi suatu dinamika tulisan yang mengungkap perasaan itu sendiri.

Senin, 20 Januari 2014

Melepasmu tak Semudah Melepas Angin

Tidak ada komentar
Pembiasan yang terpancar dari cahaya matahari, terpantul begitu indahnya disertai dengan suara anak-anak kecil di sekelilingku. Ku lihat betapa bahagianya mereka dengan mainan-mainan itu. Tak peduli seberapa panas sinar matahari yang terpancar, mereka tetap bermain begitu riangnya. Andai aku seperti mereka, yang dapat hidup tanpa harus merasakan kepedihan dalam hati, tanpa harus mengais-ngais masa lalu yang nampaknya lebih indah dari saat ini.

Dia. Nama yang selalu ada di benakku setiap saat. Indahnya nama itu saat ku dengar. Hatiku berdenyut hingga urat nadi ku pun turut meresponnya. Dia memang yang terbaik yang kumiliki saat ini. Tak ada yang dapat menyerupainya, tak ada yang dapat menggantikannya di hatiku. Tempatnya di dalam sudah permanen milikknya. Pikiranku terpenuhi oleh bayangnya yang sungguh tak dapat aku lupakan sedetikpun. Bahagiaku adalah bahagianya. Di sampingnya adalah tempat terbaik yang pernah aku temui di dunia; tempat ternyaman, tempat paling tenang untuk bersandar dan berbagi cerita sepanjang hari. Bercerita tentang indahnya hari kita berdua, bercerita tentang bahagianya aku berada di dekatnya. Setiap berada di sisinya, waktu berjalan begitu cepat. Hingga sang surya digantikan oleh rembulan, aku tetap ingin bersama-sama denganmu. Menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamamu. Karena kamu adalah bahagiaku.

Hari demi hari kian berganti. Rasa sayangku padanya tetap seperti dulu. Aku tetap mencintainya sama kalanya ketika kita berdua pertama kali bertemu. Rasa ini memang tak mudah pudar. Tetapi bagaimana dengannya? Aku tak tahu apakah Dia masih mencintaiku sama seperti ketika awal perjumpaan kita? Apakah aku masih satu-satunya gadis yang ada di hatinya? Apakah dia masih memeiliki perasaan yang sama denganku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. Lalu bagaimana dengan sifatnya belakangan ini? Akankah ini pertanda bahwa Ia sudah mulai bosan denganku? Mengapa harus ada kata "bosan" dalam suatu hubungan? Tentu saja ini tak berlaku pada diriku sendiri. Tetapi aku paham bahwa setiap orang pasti memiliki karakter yang berbeda-beda. Jika aku tak cepat bosan, belum tentu kau juga memiliki sifat yang sama denganku. Atau mungkin saja Dia sudah melupakanku dan kenangan-kenangan yang dilalui bersamaku karena ada seseorang yang hadir dalam hidupnya yang membuatnya lebih bahagia daripada aku.

Saat aku dan dia berada di sebuah tempat di mana aku dan dia selalu mengahbisakn waktu kami di sini. Ku genggam kedua tangannya dan bertanya padanya dengan nada yang lembut, "Apa kau masih seperti Tony yang dulu?". Lalu Ia diam sejenak meresapi pertanyaan sederhana namun penuh arti yang terlontar dari mulutku. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Dia terdiam, tak bisa berkata-kata. Kami berdua berada dalam hubungan yang tidak jelas. Dia berbalik ke belakang lalu pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan sedikit katapun. Sudah jelas, pikirku. Sudah jelas bahwa dia tak memiliki perasaan yang sama denganku lagi. Aku tunduk terdiam dengan air mata yang perlahan turun dan membasahi wajahku. Dengan keadaan seperti ini, tiba-tiba Dia kembali menghampiriku. Duduk di sebelahku sambil merangkulku. "Untuk apa kau kembali lagi kesini?", gumamku sambil membersihkan wajahku dari air mata yang berlinang. "Aku tak tega melihatmu seperti ini, Cessy", jawabnya dengan nada yang tak kupahami maksudnya. "Kau harus kembali pulang, sebelum gelap", lanjutnya lagi. Aku tak mengerti mengapa dirinya berubah drastis seperti ini. Yang kutahu belakangan ini dia tak pernah memperdulikanku.
Setelah dia mengantarku pulang, dia memberikanku surat bertuliskan sesuatu yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupku;

"Cessy Sayang, 
Terimakasih sudah menjadi yang terbaik untukku selama ini. Kau adalah wanita terhebat yang penah aku temui setelah ibuku. Kau sangat sempurna untukku, mencintaimu adalah yang terindah yang pernah aku alami dalam hidupku. Berada di sampingmu adalah saat terbaik dalam hidupku. Namun semua ini harus berlalu. Aku sengaja menjauhkanmu belakangan ini. Aku berpura-pura untuk tidak mencintaimu lagi. Padahal, asal kau tahu, cintaku padamu melebihi apapun. Kau tahu Cessy, kita takkan pernah bisa bersatu. Ada sesuatu di tengah-tengah kita yang sudah tak menjadi rahasia bagi kita lagi. Kita berbeda, Cess. Tentu saja berbeda. Aku mengenakan tasbih di tanganku. Dan kau mengenakan salib sebagai kalungmu. Akankah perbedaan kita dapat bersatu? Aku rasa tidak. Maafkan aku karena telah meninggalkanmu. Aku percaya bahwa kau pasti akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Terimakasih untuk waktu-waktu indah yang begitu berharga, Aku mencintaimu.
Dari seseorang yang terjebak dalam cinta terlarang; Tony"

Aku menangis tertitih setelah membaca surat darinya. Jadi ini akhir dari hubungan kami berdua. Hanya karena sebuah perbedaan yang tak mungkin dapat bersatu. Kami sama-sama mencintai, namun terhalang oleh perbedaan. Aku sangat sulit untuk mempercayai ini. Dia telah pergi meninggalkanku, meninggalkan aku dalam kesendirian. Ditemani oleh kenangan-kenangan manis dari dirinya. Sejenak suaranya terlintas di pikiranku. Aku sangat merindukannya. Lebih tepatnya lagi merindukan berbagi kasih sayang dengannya. Dengan berakhirnya semua ini aku memutuskan untuk melepas genggamnya dalam benakku, merelakannya pergi, melepasnya dari pelukkanku walau dalam hati aku berbisik; melepasmu tak semudah melepas angin.

Sabtu, 11 Januari 2014

Pantaskah?

Tidak ada komentar

Ketika fajar dimana aku mulai membuka mataku, tak ku pahami mengapa otakku selalu tertuju padamu. Entah apa yang terjadi pada diriku.
Saat murid-murid berdatangan, hingga pelajaran selesai, tetap saja kau selalu hadir dalam fikiranku.
Siang hari, saat aku bermain bersama teman-temanku. Dalam hari yang penuh canda, tawa maupun keperihan dalam benak ini, kau tak luput hilang dalam bayangku.
Ketika sang fajar telah digantikan oleh senja, wajahmu, tawamu, suaramu tetap hinggap di hatiku.
Hingga pada akhirnya, sebelum aku memejamkan mataku. Hanya engkau yang hadir di sini. Di hati maupun fikiranku. Seharian. Setiap hari.
Dalam tidurku pun aku tetap memikirkanmu, terbukti dari mimpiku tiap malam yang selalu menghadirkan dirimu. Kamu. Seseorang yang bahkan tak menganggapku ada.
Pantaskah aku menghadirkanmu di setiap jejak langkahku? Aku sangat suka menulis tentang dirimu. Tapi bodohnya diriku tetap mengharapkanmu saat aku mengetahui bahwa kau tidak mengingini aku hadir dalam hidupmu.

Sakit. Speachless. Mendengarmu berbicara tentangnya. Aku hanya bisa tersenyum. Dan kau sama sekali tidak mengerti apa maksud dari senyumku ini.  Kau tak mengetahui apa yang terjadi dalam hatiku saat kau mengabaikanku. Ketika aku hanya bisa terdiam dan membisu menyaksikanmu bahagia dengan orang lain yang lebih pantas mencintaimu.
Semua ini tak luput dari perasaan yang telah ku pendam sejak lama. Iya aku mengakui bahwa aku mencintaimu. Mencintaimu dalam diam lebih tepatnya.
Aku menyadari bahwa aku memang tak pantas untuk mencintaimu, apalagi memilikimu. Dengan segala kekurangan yang aku miliki, aku sangat menyadari bahwa kau tak mungkin memiliki hal yang sama denganku.
Perasaan ini biar ku pendam selalu. Dengan kepedihan ini, aku mampu untuk belajar untuk menjadi lebih tegar dari sebelumnya.
Biar rasa ini lenyap termakan waktu, biar rasa ini hilang dengan sendirinya.
Kau tak perlu mengetahui tentang perasaanku yang bahkan tak penting dan tak berarti dalam hidupmu.
Abaikan semua tulisan ini sama seperti kau mengabaikanku.

Selasa, 07 Januari 2014

Terkadang aku hanya ingin memastikan bahwa kau telah hidup bahagia, tanpaku.

Tidak ada komentar

Tengah malam saat aku tak mampu memejamkan kedua mataku, aku mengambil handphone dan earphoneku. Lalu ku mulai mendengarkan musik sebagai temanku disaat aku sedang kesepian di tengah malam seperti itu.
Lagu demi lagu kian berganti, tak sengaja lagu ini terputar kembali. Lagu apa? Ya, lagu kenangan kita berdua.
Saat mendengarkan alunan musik ini, otakku langsung tertuju padamu. Lirik demi lirik ku hayati sehingga membuatku tersenyum sambil mengingat hal lampau yang telah terjadi di antara kita. Manis sekali kenangan itu. Aku bahkan tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Karena cerita ini hanya kita berdua yang mengetahuinya, cerita cinta kita; aku dan kamu di masalalu.
Kerinduan seperti ini sering terjadi, bahkan terkadang aku mencoba untuk melihat profilmu hanya untuk sekedar mengetahui kabarmu, hanya untuk memastikan bahwa kau telah bahagia dengan kehidupan barumu. Tanpaku.
Tak ada lagi luka, tak ada lagi kekecewaan. Percayalah padaku bahwa aku telah memaafkanmu dari awal. Tak perlu mengais masalalu. Karena kini kita telah kembali ke jalan kita masing-masing. Tak lagi bergandeng tangan, tak lagi saling menopang.
Biarlah kenangan tetap dikenang. Kerinduan pasti ada, namun tak ada yang perlu diharapkan lagi. Kau sudah bahagia diluar sana tanpaku demikian pula aku yang (mencoba untuk) bahagia tanpamu. Tapi percayalah, aku sudah terbiasa tanpamu.
Hanya saja aku (belum bisa) melupakanmu sepenuhnya.
Detik demi detik saat ku bersamamu, setiap kenangan indah yang kita lalui bersama pada saat itu telah menjamur di otakku. Butuh waktu untuk melenyapkan ini semua.
Walaupun begitu, aku senang melihatmu bahagia.
Untuk seseorang yang pernah hadir dalam hidupku; Kak Pungky.

Rabu, 01 Januari 2014

Nadya Fatira-Bintang yang Meredup (OST Radio Galau FM)

Tidak ada komentar

Kita yang mencari
Dan pahami isi hati
Lelah di tengah jalannya
Dan hentikan cerita

Kaulah bintangku yang meredup
Perlahan terambil cahayanya
Kaulah bintangku yang meredup
Perlahan tak lagi terangi
malamku

Tak ada manusia sempurna
Dapatkah kau terima
Dan engkau kan terus mencari
Pengisi kosong hati

Kaulah bintangku (bintangku)
yang meredup
Perlahan (perlahan) terambil
cahayanya
Kaulah bintangku (bintangku)
yang meredup
Perlahan (perlahan) tak lagi
terangi malamku

Kaulah bintangku (bintangku)
yang meredup
Perlahan (perlahan) terambil
cahayanya
Kaulah bintangku (bintangku)
yang meredup
Perlahan tak lagi terangi
malamku