Jumat, 27 Juni 2014
Hanya untuk melihatmu bahagia.
Merajut kasih sayang dan membangun kebahagiaan baru yang berbeda dari sebelumnya.
Antara kita kini tak lagi sama, semenjak hal gila yang disebut cinta itu muncul dalam persahabatan kita. Lebih tepatnya, ini salahku.
Salahku yang diam-diam mencintaimu tanpa alasan.
Aku yang memendam.
Aku yang menutupi semua tentang perasaan yang timbul ini.
Perasaan yang begitu sensitif.
Sangat bahaya apabila diungkapkan.
Pada akhirnya, terungkap.
Kisah cinta yang aku alami begitu rumit. Iya, aku mencintaimu. Bahkan melebihi apapun. Tak pernah aku merasakan cinta sedalam ini. Aku ingin selalu ada untukmu. Hatiku selalu berbisik tentang dirimu. Pikiranku selalu mengarah padamu. Tapi apadaya? Semua yang aku rasakan ini begitu rumit. Kamu orang yang aku cintai sekaligus sahabatku sendiri. Sesungguhnya aku tak ingin semua rasa ini mengalir. Rasa yang menyiksa diriku sendiri. Yang membuat aku selalu terpuruk. Karena sudah jelas, cintamu bukan untukku.
Aku tak peduli ketika hatimu hanya diperuntukkan untuk dia yang lebih pantas memperolehnya. Aku tak peduli jika cintaku tak terbalaskan. Aku tak peduli seberapa dalam luka yang aku rasakan. Aku tak peduli hatiku yang semakin rapuh untuk mencintaimu. Siapa gerangan yang mengatakan cinta itu indah? Setahuku, cinta itu menyakitkan. Menyiksa diriku sendiri. Namun aku tak bisa berhenti mencintaimu. Entah mengapa, hatiku selalu menerimamu. Apapun yang terjadi padamu, aku selalu peduli. Aku ingin tahu, apa yang membuatku bertahan untuk mencintaimu meski jauh di dalam hati kecilku; Aku Terluka.
Aku rindu masa persahabatan kita. Saat hatiku belum menyimpan rasa padamu. Aku benci perasaan yang timbul pada diriku ini. Ingin ku menghapusnya, namun salahku, aku tak bisa. Perasaan ini begitu melekat. Sulit tuk dihempaskan. Apalagi dihapuskan. Terlalu peduli padamu. Terlalu mencintaimu. Melebihi perasaan seorang pada sahabat. Bodohnya aku.
Seiring berjalannya waktu, aku mengerti bahwa cinta itu memang tak harus memiliki. Mungkin ini terdengar seperti semboyan kuno yang bagi kebanyakan orang, hal ini adalah omong kosong. Namun, bagiku cinta itu memang tak harus memiliki. Bukan berarti aku merelakanmu dengan orang lain karena rasa cintaku yang tak dalam untukmu. Tapi, karena cinta inilah aku merelakanmu. Karena cinta dan kepedulianku terhadap kebahagiaanmu. Hati ini sangat bahagia melihatmu bahagia, dengan cara apapun itu. Meski gantinya adalah aku harus mengorbankan perasaanku sendiri. Walau nyatanya, aku harus terluka hanya untuk melihatmu bahagia. Oleh karena itulah aku harus mampu untuk menengadah ke langit. Menatap semua asa yang aku limpahkan kepadamu. Menggores kesepian demi kebahagiaanmu.
Orang bodoh mana yang rela melukai hatinya untuk orang lain? Sebodoh itukah aku?
Sedalam apa perasaan cinta yang aku miliki hingga aku tak peduli seberapa perihnya perasaan ini? Seperti apa cinta itu? Haruskah aku merasakan semua kepedihan ini seorang diri?
Hanya untuk melihatmu bahagia ku terkapar menahan sakit. Setiap hari. Setiap waktu. Dimanapun itu. Namun melihatmu bahagia merupakan obat bagi luka hatiku. Karena senyummu mampu mencabut duri yang menancap begitu dalam di hatiku. Tawamu mampu menghapuskan air mataku walaupun secara tidak langsung. Kebahagiaanmu mampu merubah hujan dalam hatiku menjadi pelangi yang menerangi dan membuat diriku menjadi ikut bahagia melihatmu.
Senin, 26 Mei 2014
Kamu. Aku. Dia.
Indahnya hari, saat ku terbelenggu dalam bayangmu. Bermimpi kau ada di sini, menemaniku, berbagi cerita dalam hariku. Sosokmu tak luput terbuai di benakku seakan kau adalah bagian dari puzzle hidupku yang hilang. Kau menyerupai seorang yang terkulai secara nyata dalam impianku.
Apa? Impian? Bukankah sangat menyedihkan jika seseorang memiliki mimpi yang tak masuk akal? Maksudku, lihat kamu. Iya kamu. Bagaimana mungkin dalam mimpiku kau hadir sebagai kekasihku padahal dalam dunia nyata, aku tahu jelas, kau tahu jelas, semua orang juga tahu bahwa kamu sudah bahagia dengannya, bukan? Dengan dia yang memiliki paras begitu sempurna bak impian semua wanita. Dia yang sangat indah di matamu.Sedangkan aku? haha. aku cuma segelintir orang yang diam-diam selalu memperhatikanmu. Aku hanya sanggup memilikimu dalam mimpiku. Aku hanya bisa menggenggammu dalam bayangku.
Sekejam inikah kenyataan? Kenyataan bahwa kau tak mungkin dapat aku miliki seutuhnya. Karena sudah jelas, hatimu memilihnya. Kamu sangat mencintainya. Dia juga sangat mencintaimu. Lalu siapakah yang harus disalahkan dalam relasi kita bertiga? Antara kamu, aku dan dia? Aku rasa, akulah penyebabnya. Aku yang seharusnya tak memendam rasa untukmu saat kau memberi perhatian sederhana sebelum kau mulai jatuh cinta padanya. Aku yang dahulu terlalu berharap lebih padamu, yang pernah berpikir bahwa kita berdua akan bersatu untuk saling menyayangi. Seharusnya aku sadar, bahwa segala perhatian, canda, dan tawa yang pernah terjadi di antara kita dulu, bukanlah tanda bahwa kau mencintaiku sebagai kekasihmu, melainkan; sahabatmu.
Dan inilah kita sekarang. Sikapmu yang perlahan mulai berubah saat hidup herdampingan dengannya membuatku rindu akan masa lalu saat kau dan aku terbebas untuk saling bercanda tanpa mengenal waktu. Tapi saat ini, mungkin segala kenangan itu harus aku kubur dalam-dalam. Karena sudah jelas, kau miliknya. Dia milikmu. Dan aku? Mungkin hanya sebagai parasit dalam hubungan kalian berdua.
Biarkan aku pergi, menggenggam hati yang terkoyak kesakitan. Melepaskan segala kepedihan yang selama ini aku sembunyikan di hadapanmu. Aku tak sanggup lagi untuk bertingkah seakan-akan aku baik-baik saja di hadapanmu. Senyumku sendiri telah menyiksa batinku. Menjatuhkan jiwaku ke dalam lubuk kesakitan. Melukis perasaanku dengan goresan luka yang mendalam.
Sekilas Tentang Rasa
Kali ini aku tak ingin banyak menulis. Aku hanya akan meluangkan sedikit waktuku untuk mencurahkan isi hatiku melalui coretan sederhana di sini.
Aku memandangmu dari kejauhan sambil berharap bahwa kau tak akan menyadarinya. Dari sini, aku dapat merasakan hal itu. Hal yang timbul dan berkembang di dalam hatiku. Pikiranku terpenuhi oleh hiruk pikuk dan desisan tak beraturan yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Ibarat seseorang yang mendapat apa yang diingininya; Bahagia.
Tetapi aku tak paham, mengapa bahagia ini muncul begitu saja dalam benakku. Akankah bahagia ini abadi? Atau hanya hinggap sementara dan akan hilang begitu saja dalam waktu yang cepat. Sesungguhnya, aku ingin sekali mempertahankan perasaan macam ini. Tapi bodohnya aku karena tak tahu bagaimana caranya.
Mungkin coretan bodoh ini membuat kalian bingung dengan apa intisari dari sajak yang berserakan dalam blogku. Tapi percayalah, aku juga tak mengerti. Apa mungkin ini semua hanya lelucon? Mungkin.
Sabtu, 19 April 2014
Salahkah Jika Cinta Timbul Bukan Melalui Sebuah Pertemuan Nyata?
Celotehanmu.
Hatiku selalu berdebar tiap aku menerima mention darimu. Kamu pengisi ruang-ruang hatiku yang hampa. Kamu mengisi dan memenuhinya dengan suatu kesan sederhana yang disebut kebahagiaan. Lebih tepatnya, kebahagiaan sejak mengenalmu.
Dari awal aku mengenalmu, aku merasa ada yang salah. Aku juga tak tahu apa hal itu. Berawal dari sebuah percakapan sederhana yang mungkin tak ada pentingnya sama sekali bagi semua orang. Dan aku di sini, tersenyum. Entah mengapa aku selalu merasakan dentuman kecil dalam hatiku tiap menatap wajahmu dari belakang layar. Di balik foto itu terdapat senyummu yang selalu mengalihkan duniaku.
Bahagia bagiku bukanlah sesuatu yang rumit. Bahagia bukan tentang bagaimana orang memandangmu, namun bahagia itu tentang bagaimana hatimu senang walaupun melalui hal-hal sederhana. Sesederhana melihat namamu muncul di timeline; apalagi di tab mention ku.
Mungkin aku tertarik padamu. Tapi entahlah. Aku masih ragu akan perasaanku ini. Perasaan yang mulai muncul sejak pada malam itu. Percakapan sederhana. Indah sekali.
Karena sesuatu yang indah bukanlah seperti apa yang kita lihat, namun ini mengenai apa yang kita rasakan. Aku merasa tenang saat aku terdiam di hadapan komputerku, menatap indahnya sinar matamu dibalik hamparan dimensi maya. Mencari tahu semua tentang dirimu melalui ketukan-ketukan kecil oleh jemariku. Aku akan mencoba agar aku mengenalmu jauh lebih dalam. Semampuku. Meski pada kenyataannya, kita tak pernah saling bertemu.
Terkadang aku lelah. Aku lelah untuk mengagumi mu dalam semu. Aku ingin sekali berjumpa denganmu. Secara nyata tentunya. Agar perasaan ini tak hanya tinggal di sini. Agar perasaan ini terungkap melalui tatapan mataku kepadamu. Agar perasaan ini mengalir begitu saja tanpa harus aku tutupi lagi.
Perasaan macam apa?
Cinta?
Haha benarkah?
Bagaimana mungkin seseorang yang hanya bertemu dan saling sapa melalui suatu jaringan semu yang disebut internet dapat jatuh cinta dengan kawannya yang ada dalam dunia semu tersebut?
Bagaimana mungkin sebuah benda dua dimensi yang disebut foto itu dapat menjadi salah satu alasan bagaimana cinta itu dapat muncul?
Bagaimana mungkin setiap karakter dalam sajak tweet seseorang dapat membuat jatuh cinta?
Entahlah.
Mungkin karena aku tipe orang plegmatik yang jarang bersosialisasi melalui sebuah pertemuan. Yang hanya terdiam dalam kamar mengurusi blog ku yang usang dan mengenal seseorang melalui berbagai macam sosial media.
Oleh sebab itu, mungkin, aku jatuh cinta padamu.
Aku ingin menyentuhmu. Aku ingin dengar suaramu. Aku ingin tahu bagaimana sifatmu dalam realita. Aku ingin berjalan di sampingmu dan tertawa bersama-sama dengamu. Aku ingin menghabiskan hariku bersama denganmu. Tidak hanya melalui sebuah percakapan sederhana dibalik dimensi maya, namun juga dalam harimu dan hariku yang sesungguhnya.
Jiwaku beterbangan mencungkil kekhawatiran sesaat. Seakan memanah waktu yang bertengger bersama lumatan dunia kiri dimensi setapak. Haruskah cinta itu timbul dari tatapan mata secara nyata?
Tapi aku percaya, cinta datang melalui berbagai cara yang unik dan tak biasa. Semuanya terjadi begitu saja secara luar biasa.
Salahkah aku yang hanya menggunakan imajinasiku untuk mengagumimu?
Aku ingin dapat menggenggam cinta darimu yang aku peroleh melalui layar kaca bercahaya yang mempertemukan aku dan kamu.
Mungkinkah?
Senin, 14 April 2014
Mungkin, Aku Terlalu Berharap Banyak
Mungkin, aku terlalu berharap banyak. Rasanya semua terjadi begitu cepat. Kita berkenalan. Lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku.
Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kasong di hatiku. Tak ada lagi percakapan yang biasa. Seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa.
Entahlah. Perasaan ini tumbuh melebihi batas yang aku tahu. aku menjadi takut kehilanganmu.
Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tak ada di sampingku.
Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku. Ada sebab yang tak kumengerti sedikutpun. Aku sulit jauh darimu. Aku membutuhkanmu seperti aku butuh darah. Nafasku akan tercekat jika Sosokmu hilang dari pandangan mata.
Salahkah jika kamu selalu aku nomorsatukan?
Tapi entah mengapa sikapmu tak seperti sikapku.
Perhatianmu tak sedalam perhatianku.
Tatapanmu tak setajam tatapan mataku.
Adakah kesalahan di antara aku dan kamu?
Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?
Mungkin kamu belum terlalu paham tentang perasaanku karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku.
Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu?
aku selalu kehilangan kamu dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta ijin.
Minta ijin?
Memangnya aku siapa?
Kekasihmu?
Bodoh!
Tolol!
Hadir dalam mimpimupun aku sudah bersyukur. Apalagi bisa menjadi milikmu seutuhnya.
Mungkinkah?
Janjimu terlalu banyak hingga aku lupa menghitung yang mana saja yang belum kamu tepati.
Begitu sering kamu menyakiti tapi kumaafkan lagi berkali-kali.
Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu.
Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus.
Seberapa tidak peningkah aku?
Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan juga kau tinggalkan?
Apakah aku tak berharga dimatamu?
Apakah aku hanya boneka yang selalu ikut aturanmu?
Dimana hatimu?
Siapakah orang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?
Mungkin semua memang salahku yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman.
Salahkah jika perasaanku tumbuh melebihi batas kewajaran?
Aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman. Tapi juga sebagai seseorang yang begitu bernilai dalam hidupku.
Namun semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin aku memang terlalu banyak berharap. Dan pasti kamu tak sadar jika aku berbohong aku bisa begitu mudah melupakanmu. Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian.
Jumat, 11 April 2014
tanda kutip, Aku "Bahagia" (:
Tersenyum.
Turut bahagia.
Ikut merasakan indahnya dunia.
Aku senang. Sungguh senang. Melihatmu berdua dengan dirinya (:
Dia yang jauh lebih sempurna dari diriku.
Dia pantas mendapatkanmu.
Dia pantas menerima cinta dari hatimu.
Dia pantas menjadi sumber dari kebahagiaanmu.
Dia pantas. Memang sangat pantas menjadi kekasihmu. Perempuan yang ada dibalik senyum manismu.
Dunia ini, terasa milik kalian berdua. Aku turut merasakan kebahagiaan kalian dari belakang panggung sandiwara. Aku ikut menikmati tawa dan canda kalian berdua.
Kali ini, aku tak mampu menulis banyak tentangmu. Maksudku, tentang kamu dan dia yang kini telah bersama menjalani detik demi detik kehidupan. Hidup kalian telah bahagia di luar sana. Aku ikut merasakan indahnya hidup;tanpa dirimu.
Intinya, aku bahagia (:
Rabu, 09 April 2014
Untukmu, yang telah pergi.
Saat kau pergi dari sini, kerapuhan hatiku merasuk ke setiap tubuh dan jiwaku yang membuatku semakin merasa tak berdaya.
Kamu yang telah bahagia di luar sana. Yang sempat ku miliki dan dengan enggan ku lepas dari genggaman tanganku sendiri.
Omong kosong!
Saat ini aku menyadari betapa bodohnya diriku yang pernah beranggapan bahwa "aku tak bisa hidup tanpamu". Perlahan kesedihanku saat itu ditelan oleh sang waktu. Semakin hari, diriku diajarkan oleh sang waktu untuk menjadi gadis yang tegar. Tanpa air mata kesedihan. Senyuman yang datang dari hati. Iya, hal ini wajib ku lakukan sejak kepergianmu dahulu.
Hari kian berganti, bulan demi bulan kujalani tanpa dirimu. Dan di sinilah aku saat ini. Aku masih hidup, kan? Ternyata memang, hidupku tidak tergantung kamu. Berjalan sendiripun aku mampu. Tak ada yang menopang. Tak ada yang mengusap setiap air mata yang terjatuh. Tak ada yang enggan meninggalkanku sendirian. Tapi siapa peduli? Aku sudah dewasa. Aku sudah bisa mengurusi diriku sendiri tanpa harus diingatkan jika ingin melakukan sesuatu.
Lagipula, aku punya sahabat. Dia lebih mengerti aku daripada dirimu. Dia jauh lebih memperhatikan setiap langkah hidupku dibanding sosokmu. Selain itu, aku juga punya keluarga yang utuh. Yang selalu ada buatku. Yang selalu berjuang demi kebaikan diriku.
Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang jauh lebih baik dari dirimu. Seperti kata kak dwitasari, "jika Tuhan mengambil emas darimu maka Ia akan menggantinya dengan berlian". Aku percaya itu. Jadi, tak perlu lagi mengais masa lalu. Karena ada sesuatu yang jauh lebih indah dibalik hari esok.
Senin, 31 Maret 2014
Fatamorgana Cinta dalam Realita
Datang menghampiri titik terlemahku.
Mengetuk hatiku dengan perlahan
Menyapaku dengan segaris senyuman.
Menyentuh hatiku dengan kasih sayang.
dan mengenalku dengan kepedulian.
Tapi apakah memang cinta itu datang?
Atau hanya pembiasan dari anganku yang semu?
"Tak seharusnya aku seperti ini. Kesalahanku berdasarkan fatamorgana cinta dalam realita."
Aku menghempaskan nafasku secara perlahan sambil menatap indahnya bintang malam ditemani secangkir teh hangat. Kibasan angin yang membawa jiwa ini larut laun bersamanya membuat malamku terasa lebih sempurna. Alunan musik jazz yang tak kunjung berhenti sejak sore tadi menenangkan perasaanku; melupakan segala rasa gundah di hati untuk sementara, mengubahnya menjadi suatu estetika dalam sebuah dinamika.
Dalam tidur aku bermimpi tentangmu. Kau yang seharusnya tak aku impikan. Entah apa yang membawamu ke dalam dunia alam bawah sadarku. Namun jujur, aku sangat menyukainya. Aku bahkan tak ingin terbangun saat kau berperan sebagai orang yang begitu penting di dalam mimpiku. Wajahmu yang polos, dihiasi oleh segaris senyum yang menawan.
Dirimu telah lama hadir di sini. Di hatiku. Tanpa sebab kau larutkan perasaan ini dan mengaduknya bersamaan dengan suatu kelimpahan tak terhentikan yang disebut cinta. Semakin lama, semakin meluap. Perasaan ini memang tak bisa aku tutupi lagi. Aku harus mengutarakannya padamu. Aku sudah cukup bosan dengan semua ini; menjadi pengagummu dalam bisu.
Keraguan dan kegelisahan menggerutu bersamaan di dalam jiwaku. Ketakutan menghantui pikiranku sehingga membuatnya semakin tak berdaya bahkan tak mampu lagi untuk berpikir. Apa yang aku khawatirkan? Apa sensasi cinta memang mengerikan seperti ini? Lalu apa kata orang-orang tentang indahnya cinta?
Mungkin aku takut jika cintaku akan tak terbalaskan. Karena memang hal itu yang aku lihat dari matamu. Saat ku berusaha untuk mencari perhatianmu, kau seakan-akan tak peduli terhadap segala kode yang ku lontarkan di hadapan dirimu. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan saat itu adalah terdiam dalam pengabaianmu.
Aku ikut tersenyum dalam hati ketika melihatmu tertawa lepas dari kejauhan. Kebahagiaanmu seakan-akan turut mengalir dalam jiwaku memberiku semangat yang baru untuk menjalani hariku. Membawa keindahan dunia masuk ke dalam kehidupanku. Walau di sisi lain, aku harus terluka karena senyummu hanya dapat ku genggam dalam alam bawah sadarku.
Terlalu sering memikirkanmu.
Terlalu sayang.
Terlalu mencintaimu.
Terlalu sering membayangkan dirimu ada di sini.
Cinta dalam semu. Menyakitkan. Fatamorgama cinta. Hatiku. Kamu.
Menyedihkan.
Hatiku selalu berbisik bahwa cintaku memang tak perlu menuntut balasan darimu. Namun serangan si logika yang menghantui jiwaku beranggapan bahwa dirimu harus ada dalam genggamku. Bagi si logika, feedback itu penting.
Yang mana harus aku pilih?
Terkadang aku sadar bahwa memaksakan kehendakmu untuk menjadi milikku adalah suatu perbuatan yang egois. Saat hatiku bicara, aku selalu menanggapinya dengan seksama serta menjalani segala hal yang menurut hatiku harus dilakukan. Tapi aku harus mengorbankan sesuatu yang sangat penting dalam diriku; Hatiku.
Tebasan air mata mengalir dalam kebisuan. Cintaku. Aku sendiri yang tahu. Genggaman seiris senyum semu dalam alam bawah sadarku meretakkan hati yang harusnya bahagia ketika merasakan indahnya cinta.
Cinta tanpa feedback. Sakit bukan?
Sabtu, 29 Maret 2014
Saat Seorang Plegmatik Jatuh Cinta
Ya seperti inilah keseharianku.
Ada yang tau aku tipe orang seperti apa?
Aku hanya seorang gadis biasa namun tak sama dengan gadis lain. Mungkin kalimat ini membingungkan, tapi yang jelas aku memiliki suatu sisi yang 'berbeda' dengan mereka.
Ketika mereka semua (anak-anak remaja jaman sekarang) ceria menghabiskan hari-harinya dengan hangout bersama teman-teman tercintanya, hal itu tak terjadi padaku. Aku lebih suka untuk diam di kamar seharian, bermain gitar sambil mendengarkan alunan musik karya seniman-seniman favoritku. Aku lebih suka untuk menghabiskan waktuku di dalam kamar. Bersama laptop ku yang dapat membawa aku keliling dunia hanya dengan meng-klik satu kali.
Aku lebih suka mengenali seseorang jauh lebih dalam melalui komunikasi lewat sosial media. Aku bahkan hampir memahami setiap karakter atau kepribadian yang mereka miliki.
Di dunia nyata, aku lebih sering terdiam. Berbicara hanya saja ada keperluan atau kepentingan. Aku selalu menampilkan wajah 'flat' atau biasa dalam segala keadaan. Aku jarang menunjukkan rasa bahagiaku, aku jarang menunjukkan rasa kesedihanku. Yang mereka tahu, aku tidak pernah merasakannya. Mereka hanya mengenalku melalui sikap dinginku kepada orang-orang yang menunjukkan bahwa aku adalah seseorang yang tak pernah merasakan indahnya dunia.
Namun mereka semua tak tahu apa yang terjadi dalam hati ini. Karena terbiasa akan sikapku, mereka semua hampir lupa bahwa aku juga manusia yang bisa merasakan cinta, kasih sayang, kesedihan maupun kebencian.
Aku sudah tahu bahwa aku ini memiliki kepribadian jenis 'plegmatik'. Dimana plegmatik merupakan orang yang tertutup yang sangat diam, tidak menuntut kalem dan lambat. Mereka jarang mengeluarkan ide-ide atau perasaan jika mereka tidak yakin mereka tidak akan melukai atau menyakiti orang lain. Orang Plegmatik merupakan teman yang menyenangkan dan tidak menakutkan, dua dari kelemahan mereka yang utama adalah rasa takut dan egois, walaupun mereka menunjukkan sikap ini dengan sangat diplomatis sehingga bahkan beberapa teman baik mereka tidak mengenal mereka. Tipe plegmatik adalah orang yang cenderung tenang, dari luar cenderung tidak beremosi, tidak menampakkan perasaan sedih atau senang. Naik turun emosinya itu tidak nampak dengan jelas. Orang ini memang cenderung bisa menguasai dirinya dengan cukup baik, ia intorspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya.
Sudah jelas, bukan?
Jadi mungkin kepribadianku dapat digambarkan melalui tulisan di atas.
Kalian bisa bayangkan apabila tipe orang seperi aku jatuh cinta? Apa yang paling pertama ada di pikiran kalian tentang hal ini?
Aku yakin, sebagian besar dari kalian menganggap tipe sepertiku bukanlah tipe orang 'penyayang'. Namun tidaklah kau melihat bahwa aku manusia, aku punya hati, dan aku juga berhak untuk merasakan cinta?
Salahkah aku?
Awalnya aku hanya tertarik melihat matanya, namun saat itu ku rasakan hal yang berbeda dari biasanya. Aku merasakan denyut nadiku bererak semakin cepat, titik ujung jemariku bergemetaran hingga terlontar dalam pikiranku bahwa aku-telah-jatuh-cinta-padanya. Ini sensasi pertama kali yang terjadi dalam hidupku. Selama enam belas tahun ada di dunia, aku baru merasakan ini saat bertemu dengannya. Aku paham, Dia-yang-aku-cintai itu memiliki kepribadian yang jauh berbeda dengan diriku. Dia ceria, mampu bersosialisasi dan ramah dengan semua orang. Bahkan Ia mengenali hampir seluruh warga di sekolah kami. Dia tak terlalu menarik dari segi penampilan, tak juga dalam hal berbakat. Yang aku tahu, satu-satunya kelebihan yang Ia miliki adalah sikap ramahnya dengan semua orang. Senyum yang sering terlontar dari bibirnya sangatlah indah dan membuat nafasku terhenti sejenak untuk memperhatikan gerak geriknya. Matanya mengingatkanku akan Ibuku. Semuanya tampak sempurna bukan karena dirinya diciptakan sempurna, tetapi karena cintaku yang membuatnya terlihat sempurna di mataku. Namun ini bukanlah alasan mengapa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku tak memiliki alasan yang jelas untuk mencintainya. Yang aku tahu, rasa ini muncul begitu saja tanpa ada alasan yang menuntut hatiku untuk memilihnya.
Sebagai seorang wanita, aku tak akan memulai lebih awal. Aku hanya perlu menunggu hal yang tidak pasti. Hal yang mungkin termasuk dalam kategori 'semu' di hidupku. Bagaimana mungkin seseorang yang dikenal begitu banyak orang, yang berperan aktif di kalangan seusianya jatuh cinta dengan diriku yang bukan siapa-siapa. Apalagi dengan adanya suatu sisi yang 'berbeda' dalam diriku karena aku adalah seorang yang jauh dari kata 'sama' dengan dirinya. Tapi aku percaya, cinta yang sempurna bukanlah karena memiliki banyak kesamaan, namun karena dapat mempersatukan segala perbedaan menjadi suatu alkulturasi yang indah secara nyata. Tapi apadaya, haruskah aku melontarkan kode-kode untuknya agar dia paham akan perasaanku? Namun aku bukanlah tipe orang yang dapat melakukan hal tersebut. Aku tak biasa bersikap peduli dengan hal-hal seperti itu.
Aku lebih suka mengangumimu dalam diam, dari kejauhan menatap matamu dengan penuh harapan yang semu. Aku yakin bahwa kau hanya dapat ku miliki di dalam mimpiku, di dalam khayalan semuku yang tak akan terwujud selamanya. Karena bagaimana mungkin seseorang dengan tipe karakter 'sanguin' sepertimu jatuh hati pada seorang 'plegmatik' sepertiku?
Kisah hidupku tak seperti novel-novel yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang saling berbeda latar belakang dan kepribadian lalu mempunyai kisah cinta yang begitu sempurna. Aku tak seperti itu. Aku dan dia itu berbeda. Semua ini salahku. Aku yang seharusnya tak jatuh cinta pada dirimu yang hanya berkeliaran semu dalam angan-anganku.
Kamis, 27 Februari 2014
When your bestfriend is leaving you
Tidakkah kamu ikut serta merasakan keresahannya?
Ketika Ia memiliki beberapa pilihan, tetap tinggal bersamamu namun menderita atau pergi meninggalkanmu namun hidupnya menjadi tenang.
Saat itulah hatimu diuji...
Kebahagiaanmu dengannya seakan-akan telah lenyap termakan oleh waktu. Keadaan yang membuat segalanya menjadi seperti ini.
Kehilangan seorang teman yang selama ini kau anggap sahabat.
Merelakannya untuk mengikuti pilihan hatinya agar Ia dapat meredakan semua hal yang terjadi di kala Ia sedang bersama-sama denganmu.
Kenangan singkat, canda, tawa, maupun kepahitan hidup yang telah kalian lalui bersama. Membuatmu merasa tidak rela menghempaskannya begitu saja.
Dan apabila keputusannya tersebut malah menjatuhkan dirinya, akankah kamu bersedia menjadi penopang dalam kesedihannya?
Tawa yang kalian lalui akan menjadi sebuah kenangan yak terucapkan. Hati kalian sama-sama tidak tenang. Kalian seakan-akan menyembunyikan sesuatu yang sudah menjadi rahasia kalian berdua.
Tangisan dalam diam...
Yang dirasakan sahabatmu.
Keacuhan orang lain terhadapnya membuatmu semakin peduli. Kau menganggap bahwa dia mempunyai sudut pandangnya sendiri. Sudut pandang yang mungkin berbeda dari kebayakan orang. Dan saat itulah kau menyadari bahwa "Dia Berbeda".
Perbedaan inilah yang selalu membuatmu makin penasaran akan dirinya. Menggali lebih dalam ke setiap sudut pikirannya. Dan kau menemukannya. Kini kau mengenalnya jauh lebih dalam.
Ketika semua itu harus berhenti sampai di sini, apa yang kau rasakan? Saat kau sudah begitu mengenalnya namun apadaya raga tak mampu untuk membuatnya tetap bersamamu. Iya. Perpisahan itu sudah biasa. Tak pernah ada pertemuan tanpa perpisahan.
Senin, 03 Februari 2014
In Time
Jika saja aku dapat bertindak tanpa dibatasi oleh waktu. Aku akan memilih untuk berada di sampingmu selama yang aku mau. Tanpa ada keraguan lagi. Aku senang berada di sampingmu. Menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Detik demi detik berada di sampingmu, aku dapat melupakan semua beban yang ada di kepalaku. Seolah-olah kau adalah sumber kebahagiaanku. Kau juga dapat membuat waktu dalam hidupku menjadi jauh lebih berharga. Aku tahu ini hanya hal sepele yang tak mungkin kau pedulikan. Tapi, Ya. Benar. Aku sangat mencintaimu. Mungkin hanya ini yang dapat aku katakan saat ini, tapi pernahkah mau berfikir betapa berartinya sebuah kalimat? Bahkan yang hanya terucap dalam beberapa detik. Apalagi untuk seorang sepertiku yang tak mungkin dapat memilikimu seutuhnya. Dirimu lebih pantas untuknya, waktumu hanya untuk dirinya yang selama ini kau puja-puja dihadapanku. Aku selalu tersenyum melihatmu bahagia ketika bercerita tentangnya. Akan tetapi, tidakkah kau melihat seseorang di sini yang selalu menantikan kehadiranmu meski perasaannya tak terbalaskan?
Aku mengerti, aku hanya membuang-buang waktuku untuk memendam perasaan ini sendirian. Aku hanya ingin satu hal. Engkau bahagia, meski bersama orang lain selain aku. Senyummu sudah cukup membuatku bahagia. Sesimpel itukah kebahagiaanku. Yang terpenting adalah kau akan selalu tetap menjadi sahabatku. Aku lebih memilih untuk memendam perasaan ini daripada mengutarakannya padamu. Aku yakin bahwa ini akan berdampak buruk bagi persahabatan kita. Persahabatan yang telah memakan banyak waktu. Delapan tahun bersahabat denganmu membuatku paham akan kepribadianmu. Dan sudah tiga tahun belakangan ini, perasaanku padamu mulai berubah. Sejak saat itu pula aku merasa takut kehilanganmu. Karena aku sudah menganggapmu seorang yang sangat penting dalam hidupku.
Terkadang, aku hanya perlu menunggu dan menunggu tanpa jawaban yang pasti sambil bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah aku harus mengutarakannya padamu? Perasaan ini apakan penting baginya?
Sampai saat inipun aku masih berdiri di sini, menanti keajaiban mendatangiku. Walau semua perasaan yang hadir dalam diriku tergantikan oleh waktu menjadi suatu perasaan yang janggal di dalam suatu persahabatan yang sudah terjalin sejak lama. Tetapi aku mengerti bahwa kau diciptakan hanya untuk menjadi sahabat terbaikku. Bukan cinta sejatiku.
Hanya ada satu hari dimana aku menyesal ada di sampingmu. Ini seolah-olah menjadi mimpi buruk yang paling dalam. Kejadian pada hari itu membuat jantungku seperti sudah berhenti berdetak. Membuat mataku tak lagi dapat memandang. Membuat kakiku tak lagi dapat melangkah. Membuat hidungku tak lagi dapat menghirup aroma indahnya dunia. Membuat telingaku tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Ini kesalahanku, tentu.
Aku paham, ini semua sudah direncanakan oleh waktu.
Hari itu secara spontan dan diluar kesadaran akal sehatku aku mengutarakan perasaanku padamu yang sesungguhnya. Perasaan dimana aku tak lagi menganggapmu sebagai seorang sahabat, namun lebih dari itu. Seiring berjalannya waktu, perasaanku pun berubah. Ini semua disebabkan karena perasaanku yang terlalu nyaman ketika menghabiskan waktu bersama dirimu.
Dan dengan wajah kecewa, engkau meninggalkanku. Akupun terdiam dan tak dapat berkata apa-apa. Aku bodoh. Memang sangat bodoh. Inilah penyesalanku. Jika saja pada waktu itu aku tak mengatakannya padamu, pasti saat ini kita masih sering menghabiskan waktu kita bersama. Seperti selayaknya sepasang sahabat dari kecil yang salah satu di antaranya memendam perasaan yang disebut cinta.
Hingga saat ini, aku tak mengetahui di mana keberadaanmu. Orang tuamu bilang kau sudah pindah untuk meneruskan kuliahmu di luar negeri. Aku bahkan tak sempat berpamitan denganmu. Rasa bersalahku padamu saat ini semakin besar. Aku merindukanmu, merindukan kita, merindukan bagaimana kita menghabiskan detik demi detik kita dengan penuh canda dan tawa. Andai dapat kuputar waktu, mungkin memang benar, seharusnya aku tak melakukan hal bodoh ini.
Air mataku terjatuh menandakan kerinduan atas namamu. Sudah sekitar tiga tahun kita tak berkomunikasi lagi. Kita sudah lost contact. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang yang benar-benar kita sayang. Bagaimana rasanya ketika waktu itu tak lagi ada. Bagaimana kau tidak menyadari betapa pentingnya waktu saat kita berdua dulu hingga saat ini kita telah dipisahkan oleh jarak dan waktu.
Senin, 20 Januari 2014
Melepasmu tak Semudah Melepas Angin
Dia. Nama yang selalu ada di benakku setiap saat. Indahnya nama itu saat ku dengar. Hatiku berdenyut hingga urat nadi ku pun turut meresponnya. Dia memang yang terbaik yang kumiliki saat ini. Tak ada yang dapat menyerupainya, tak ada yang dapat menggantikannya di hatiku. Tempatnya di dalam sudah permanen milikknya. Pikiranku terpenuhi oleh bayangnya yang sungguh tak dapat aku lupakan sedetikpun. Bahagiaku adalah bahagianya. Di sampingnya adalah tempat terbaik yang pernah aku temui di dunia; tempat ternyaman, tempat paling tenang untuk bersandar dan berbagi cerita sepanjang hari. Bercerita tentang indahnya hari kita berdua, bercerita tentang bahagianya aku berada di dekatnya. Setiap berada di sisinya, waktu berjalan begitu cepat. Hingga sang surya digantikan oleh rembulan, aku tetap ingin bersama-sama denganmu. Menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamamu. Karena kamu adalah bahagiaku.
Hari demi hari kian berganti. Rasa sayangku padanya tetap seperti dulu. Aku tetap mencintainya sama kalanya ketika kita berdua pertama kali bertemu. Rasa ini memang tak mudah pudar. Tetapi bagaimana dengannya? Aku tak tahu apakah Dia masih mencintaiku sama seperti ketika awal perjumpaan kita? Apakah aku masih satu-satunya gadis yang ada di hatinya? Apakah dia masih memeiliki perasaan yang sama denganku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. Lalu bagaimana dengan sifatnya belakangan ini? Akankah ini pertanda bahwa Ia sudah mulai bosan denganku? Mengapa harus ada kata "bosan" dalam suatu hubungan? Tentu saja ini tak berlaku pada diriku sendiri. Tetapi aku paham bahwa setiap orang pasti memiliki karakter yang berbeda-beda. Jika aku tak cepat bosan, belum tentu kau juga memiliki sifat yang sama denganku. Atau mungkin saja Dia sudah melupakanku dan kenangan-kenangan yang dilalui bersamaku karena ada seseorang yang hadir dalam hidupnya yang membuatnya lebih bahagia daripada aku.
Saat aku dan dia berada di sebuah tempat di mana aku dan dia selalu mengahbisakn waktu kami di sini. Ku genggam kedua tangannya dan bertanya padanya dengan nada yang lembut, "Apa kau masih seperti Tony yang dulu?". Lalu Ia diam sejenak meresapi pertanyaan sederhana namun penuh arti yang terlontar dari mulutku. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Dia terdiam, tak bisa berkata-kata. Kami berdua berada dalam hubungan yang tidak jelas. Dia berbalik ke belakang lalu pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan sedikit katapun. Sudah jelas, pikirku. Sudah jelas bahwa dia tak memiliki perasaan yang sama denganku lagi. Aku tunduk terdiam dengan air mata yang perlahan turun dan membasahi wajahku. Dengan keadaan seperti ini, tiba-tiba Dia kembali menghampiriku. Duduk di sebelahku sambil merangkulku. "Untuk apa kau kembali lagi kesini?", gumamku sambil membersihkan wajahku dari air mata yang berlinang. "Aku tak tega melihatmu seperti ini, Cessy", jawabnya dengan nada yang tak kupahami maksudnya. "Kau harus kembali pulang, sebelum gelap", lanjutnya lagi. Aku tak mengerti mengapa dirinya berubah drastis seperti ini. Yang kutahu belakangan ini dia tak pernah memperdulikanku.
Setelah dia mengantarku pulang, dia memberikanku surat bertuliskan sesuatu yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupku;
"Cessy Sayang,
Terimakasih sudah menjadi yang terbaik untukku selama ini. Kau adalah wanita terhebat yang penah aku temui setelah ibuku. Kau sangat sempurna untukku, mencintaimu adalah yang terindah yang pernah aku alami dalam hidupku. Berada di sampingmu adalah saat terbaik dalam hidupku. Namun semua ini harus berlalu. Aku sengaja menjauhkanmu belakangan ini. Aku berpura-pura untuk tidak mencintaimu lagi. Padahal, asal kau tahu, cintaku padamu melebihi apapun. Kau tahu Cessy, kita takkan pernah bisa bersatu. Ada sesuatu di tengah-tengah kita yang sudah tak menjadi rahasia bagi kita lagi. Kita berbeda, Cess. Tentu saja berbeda. Aku mengenakan tasbih di tanganku. Dan kau mengenakan salib sebagai kalungmu. Akankah perbedaan kita dapat bersatu? Aku rasa tidak. Maafkan aku karena telah meninggalkanmu. Aku percaya bahwa kau pasti akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Terimakasih untuk waktu-waktu indah yang begitu berharga, Aku mencintaimu.
Sabtu, 11 Januari 2014
Pantaskah?
Ketika fajar dimana aku mulai membuka mataku, tak ku pahami mengapa otakku selalu tertuju padamu. Entah apa yang terjadi pada diriku.
Saat murid-murid berdatangan, hingga pelajaran selesai, tetap saja kau selalu hadir dalam fikiranku.
Siang hari, saat aku bermain bersama teman-temanku. Dalam hari yang penuh canda, tawa maupun keperihan dalam benak ini, kau tak luput hilang dalam bayangku.
Ketika sang fajar telah digantikan oleh senja, wajahmu, tawamu, suaramu tetap hinggap di hatiku.
Hingga pada akhirnya, sebelum aku memejamkan mataku. Hanya engkau yang hadir di sini. Di hati maupun fikiranku. Seharian. Setiap hari.
Dalam tidurku pun aku tetap memikirkanmu, terbukti dari mimpiku tiap malam yang selalu menghadirkan dirimu. Kamu. Seseorang yang bahkan tak menganggapku ada.
Pantaskah aku menghadirkanmu di setiap jejak langkahku? Aku sangat suka menulis tentang dirimu. Tapi bodohnya diriku tetap mengharapkanmu saat aku mengetahui bahwa kau tidak mengingini aku hadir dalam hidupmu.
Sakit. Speachless. Mendengarmu berbicara tentangnya. Aku hanya bisa tersenyum. Dan kau sama sekali tidak mengerti apa maksud dari senyumku ini. Kau tak mengetahui apa yang terjadi dalam hatiku saat kau mengabaikanku. Ketika aku hanya bisa terdiam dan membisu menyaksikanmu bahagia dengan orang lain yang lebih pantas mencintaimu.
Semua ini tak luput dari perasaan yang telah ku pendam sejak lama. Iya aku mengakui bahwa aku mencintaimu. Mencintaimu dalam diam lebih tepatnya.
Aku menyadari bahwa aku memang tak pantas untuk mencintaimu, apalagi memilikimu. Dengan segala kekurangan yang aku miliki, aku sangat menyadari bahwa kau tak mungkin memiliki hal yang sama denganku.
Perasaan ini biar ku pendam selalu. Dengan kepedihan ini, aku mampu untuk belajar untuk menjadi lebih tegar dari sebelumnya.
Biar rasa ini lenyap termakan waktu, biar rasa ini hilang dengan sendirinya.
Kau tak perlu mengetahui tentang perasaanku yang bahkan tak penting dan tak berarti dalam hidupmu.
Abaikan semua tulisan ini sama seperti kau mengabaikanku.
Selasa, 07 Januari 2014
Terkadang aku hanya ingin memastikan bahwa kau telah hidup bahagia, tanpaku.
Tengah malam saat aku tak mampu memejamkan kedua mataku, aku mengambil handphone dan earphoneku. Lalu ku mulai mendengarkan musik sebagai temanku disaat aku sedang kesepian di tengah malam seperti itu.
Lagu demi lagu kian berganti, tak sengaja lagu ini terputar kembali. Lagu apa? Ya, lagu kenangan kita berdua.
Saat mendengarkan alunan musik ini, otakku langsung tertuju padamu. Lirik demi lirik ku hayati sehingga membuatku tersenyum sambil mengingat hal lampau yang telah terjadi di antara kita. Manis sekali kenangan itu. Aku bahkan tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Karena cerita ini hanya kita berdua yang mengetahuinya, cerita cinta kita; aku dan kamu di masalalu.
Kerinduan seperti ini sering terjadi, bahkan terkadang aku mencoba untuk melihat profilmu hanya untuk sekedar mengetahui kabarmu, hanya untuk memastikan bahwa kau telah bahagia dengan kehidupan barumu. Tanpaku.
Tak ada lagi luka, tak ada lagi kekecewaan. Percayalah padaku bahwa aku telah memaafkanmu dari awal. Tak perlu mengais masalalu. Karena kini kita telah kembali ke jalan kita masing-masing. Tak lagi bergandeng tangan, tak lagi saling menopang.
Biarlah kenangan tetap dikenang. Kerinduan pasti ada, namun tak ada yang perlu diharapkan lagi. Kau sudah bahagia diluar sana tanpaku demikian pula aku yang (mencoba untuk) bahagia tanpamu. Tapi percayalah, aku sudah terbiasa tanpamu.
Hanya saja aku (belum bisa) melupakanmu sepenuhnya.
Detik demi detik saat ku bersamamu, setiap kenangan indah yang kita lalui bersama pada saat itu telah menjamur di otakku. Butuh waktu untuk melenyapkan ini semua.
Walaupun begitu, aku senang melihatmu bahagia.
Untuk seseorang yang pernah hadir dalam hidupku; Kak Pungky.
Minggu, 29 Desember 2013
Kerinduan yang Terselubung
Liburan hampir berakhir. Sudah dua minggu aku tidak bertemu denganmu, melihat senyummu, mendengar suaramu, dan merasakan candamu.
Lihatlah ke langit, sayang. Apa yang kau lihat? bintang-bintang itu kah? Mereka ada banyak, bukan? Namun jumlah mereka tak bisa menandingi kerinduan dalam hatiku yang ku pendam sendirian, tanpa seorangpun yang tahu bahwa aku merindukanmu. Bagaimana mungkin aku bisa merindukan seseorang yang bahkan sering menganggapku tidak ada? Bagaimana mungkin rasa ini muncul dan tumbuh secara perlahan ketika aku tak menginginkannya?
Kembali ku toleh jam di layar handphoneku. Ternyata hampir pukul sepuluh malam. Ini adalah jam-jam dimana dulu kita sering bercanda bersama. Walau hanya lewat sosial media, aku merasa sangat bahagia. Aku merasakan indahnya tengah malam saat aku membaca mention darimu. Sesederhana itulah kebahagiaanku.
Aku ingat ketika kita saling membalas mentions satu sama lain sampai tengah malam bahkan sampai dini hari sambil menahan kantuk. Saat itu kita membahas tentang banyak hal. Tak peduli seberapa membosankan topik pembicaraan kita, aku tetap tak merasa bosan. Aku membayangkan wajahmu dan suaramu secara nyata saat itu. Sungguh ku tak dapat berkata-kata.
"I miss our sleepness night when we were talkin randomly about anything"
Manis bukan? Timeline pada malam itu hanya dipenuhi oleh kita berdua. Kalaupun ada orang lain, itu adalah dwitasaridwita dengan tweet-tweet yang menyentuh hati. Kau ingat saat kau mengatakan bahwa aku pasti merindukanmu? dengan tertawa kecilmu kau melontarkan kata-kata itu lewat sebuah tweet yang kau kirimkan buatku atau sering juga disebut mention. Saat itu aku ingin sekali mengatakan "iya, aku merindukanmu". Tapi aku tahu bahwa itu bukanlah jawaban yang kau harapkan dariku. Aku tahu pertanyaanmu hanyalah candaan semata karena itulah sifatmu. Kepribadianmu yang humoris. Selalu membawa suasana menjadi sebuah komedi. Karena itulah aku merasa nyaman saat aku berada di dekatmu. Karena itulah rasa cinta dalam hati ini mulai bertumbuh.
Inilah yang tak ku sukai dari kenyataan. Mengapa wanita tak bisa memulai duluan? Haruskah aku menunggu? Menununggu sampai kau merasakan hal yang sama denganku lalu kau mengungkapkannya padaku dan akupun meresponnya dengan hal yang sama? Menyedihkan, bukan?
Tapi lupakanlah soal memilikimu. Aku tak mungkin mendapatkan cintamu. Kau tahu mengapa? Karena aku tak akan pernah mau untuk mengungkapkannya lebih awal darimu. Aku lebih baik untuk mengikuti alur dari kenyataan bahwa wanita hanya dapat untuk menunggu dan menunggu.
Tapi yang ada dalam hatiku saat ini adalah kamu. Kerinduanku untuk melihatmu kembali, mendengar suara manismu yang disertakan oleh gurauan-gurauan lucumu yang dapat menyinari hariku yang kelabu.
Tiap malam aku hanya bisa berharap dan berdoa untuk keadaanmu. Biar waktu yang menjawab semuanya.
Empat hari lagi kita pasti akan bertemu. Di sekolah. Iya. Tentu. Tempat di mana aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya, tempat di mana rasa ini mulai timbul, tempat di mana kau dapat membuat hariku lebih berwarna.
Tak peduli apa status kita. Walau kita hanya sebatas teman, namun salahkah aku merindukanmu? Mata kecoklatanmu yang sudah lama tak aku lihat. Aku rindu saat kau menatapku dengan bola mata indahmu itu lalu aku tersipu malu sambil berpura-pura untuk melakukan aktifitas tertentu.
Aku rindu saat kau menyebut namaku dengan nada seperti itu. Seperti apa? ya seperti itu!! Sangat sulit untuk dijelaskan. Yang aku tahu itu adalah hal termanis yang pernah aku dengar.
Rintik hujan terus menemaniku hingga tiba saatnya untuk kita harus memejamkan mata. Beristirahat. Inilah bagian favoritku dalam liburan ini. Karena dalam tidurku aku dapat bermimpi sepuasnya. Bermimpi tentangmu. Tentang kita. Kerbersamaan kita berdua. Kebahagiaan milik kita. Tapi hanya ada dalam mimpiku, sayang. Karena itu, ayo peka! Sadar dan bukalah mata hatimu bahwa di sini ada seseorang yang tak kenal lelah untuk merindukanmu.
"Buat nyata mimpi ini karena tak ada mimpiku yang tidak melibatkan kamu"- Dochi Sadega
Jumat, 27 Desember 2013
Aku punya sebuah surat kaleng untukmu, teman.
Ketika ku sudah bisa melupakannya, aku selalu memikirkanmu. Kau membuatku nyaman dan aku dapat merasakan kehidupanku kembali semenjak kau hadir ketika dia pergi daripadaku.
Ketika aku bersamamu, semua terasa indah sehingga membuat perasaanku padanya telah sirna dihapuskan oleh tawamu. Tak ada lagi duka, tak ada lagi kekecewaan, tak ada lagi penyesalan. Yang ada hanya harapan. Iya, kau adalah harapanku. Semenjak saat itu aku mengerti bahwa aku sedang jatuh cinta padamu.
Tetapi, apakah perasaan ini akan terus berlanjut? Aku tak paham. Lagipula tak mungkin juga jika aku mengharapkan perasaan yang sama darimu.
Aku hanya teman biasa buatmu. Apa aku terjebak dalam friendzone? entahlah. Jika kau hanya dapat aku miliki di dalam mimpi, haruskah aku menceritakan mimpi ini padamu? Aku tahu ini gila. Tapi inilah aku. Aku sayang padamu, teman. Tapi melebihi dari kasih sayang seorang teman. Haruskan aku jelaskan di sini?Aku rasa tidak. Aku ingin kita bersama menaklukan dunia, berbagi cerita, dan saling melengkapi satu sama lain. Kau adalah mimpiku. Cintamu adalah nafasku.
Sabtu, 21 Desember 2013
Memandangmu Dari Sisi yang Berbeda
Hai, nama aku Kierra. Aku pengen ceritain suatu kisah yang sangat mengesankan ketika aku berada di bangku SMA. Aku tahu bahwa ini adalah suatu kenangan yang paling indah dalam hidupku, ini adalah saat-saat yang tak akan pernah aku lupakan. Meskipun aku menyadari bahwa ini semua tak akan dapat terulang kembali. Semuanya, telah hilang lenyap dimakan oleh waktu. Yang tersisa hanyalah kenangan. Andai aku tahu bahwa ini semua akan berakhir, aku pasti akan menggunakan waktu sebaik-baiknya saat aku berada di sampingnya.
***
Verdy. Nama itu indah bukan? tapi ketahuilah, bahwa itu tak seindah kenangan ini. Sejak pertama kali aku mengenalnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Meski tak ku pahami, namun perasaan ini terus menjelma dalam jiwaku bahkan merasuki pikiranku setiap saat.
Verdy adalah seorang pria yang dianggap "cupu" oleh teman-temanku. Dia mengenakan celana di atas pinggang, baju yang kebesaran, dasi yang mencekik lehernya. Memang, penampilannya sangat aneh bagi beberapa orang. Ia juga mengenakan kaca mata yang berukuran lumayan besar. Rambutnya selalu disisir rapi. Ia tak seperti pria-prian lain yang berpenampilan "cool" ke sekolah walau hanya bermodal fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh orang tua mereka.
***
Suatu ketika, aku melihat Verdy sedang digerumuli oleh beberapa cowok-cowok kece yang tak lain adalah Revan dan genknya. Dari raut wajahnya, sepertinya Revan sedang marah kepada Verdy. Lalu aku mendekati mereka karena saking penasarannya. "Revan! kamu apain Verdy?", tanyaku karena kasihan melihat Verdy sedang ketakutan. "Alah kau gadis kecil manis, tak usah ikuti urusanku", ujar Revan kepadaku. Lalu tanpa basa-basi aku langsung menarik Verdy keluar dari gerumulan itu dengan paksa sehingga membuat Revan and the genk kesal. Tapi aku tak peduli dengan mereka. Aku mengancam untuk mengadukan mereka ke pihak sekolah dengan alasan telah membuat kekacauan. "Perempuan sial!", teriak Dio, salah satu anggota genk Revan.
"Kamu gapapa kan? Makanya lain kali kamu jangan bikin masalah sama mereka! ya tau sendiri kan mereka itu sok berkuasa di sini", nasehatku kepada Verdy. "Aku baik-baik aja kok, Key. Makasih ya kalau gak ada kamu, mungkin sekarang aku udah di rumah sakit", kata Verdy dengan nada cupunya. "Memangnya kamu punya masalah apa dengan mereka?", tanyaku. "Aku hanya itu hemm itu mereka memaksa aku untuk memberikan semua uangku kepada mereka. Jika aku tidak mau, mereka mengancam akan memukulku", Ujar Verdy sambil ketakutan. "Yaudah, lain kali hati-hati ya kalau ketemu mereka, lebih baik kamu menghindar", sahutku lagi sambil pergi meninggalkan Verdy dan langsung pulang ke rumah.
Diperjalanan aku sangat khawatir terhadap Verdy, aku takut dia akan dilabrak oleh genk Revan lagi. Tapi aku mempercayainya. Aku yakin saat ini Verdy sudah bisa menjaga dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Verdy mendatangiku dan memberikan aku sebuah lukisan wajahku. Lukisan ini sangat indah. Bahkan ini merupakan lukisan terindah yang pernah terpancar di depan mataku. "Maaf cuma ini yang bisa aku kasih ke kamu. Ini nggak ada apa-apanya dibanding upaya penyelamatanmu terhadapku kemarin. Terimalah Key", gurau Verdy dihadapanku sambil tersenyum. Sungguh manis pria ini, pikirku. Lalu aku mengucapkan terimakasih kepada Verdy dan aku ingin sekali diajarkan untuk melukis seperti ini. Verdy setuju dan Ia akan mengajariku kapanpun aku mau.
Hari demi haripun berlalu, aku dan Verdy makin dekat saja. Dan aku juga makin hebat dalam hal melukis. Ini semua karenanya. Ia yang mengajariku dengan sabar sehingga aku mampu berkarya seperti Verdy walau aku belum bisa sebaik dirinya. Kami selalu pergi berdua, kemanapun dan kapanku. Hingga suatu saat sahabatku menyarankanku untuk menjauhinya.
"Tapi kenapa? Kenapa aku harus menjauh dari kehidupan Verdy? Apa hakmu melarangku?!", kataku kepada Cindy, sahabatku yang tak biasanya melarang aku bergaul dengan orang lain. Awalnya aku kira Cindy merasa posisinya sebagai sahabatku digantikan oleh Verdy. Tapi ternyata Cindy tak merasa seperti itu. Cindy berkata kepadaku: "Key, kamu tau gak kalo kamu itu jadi bahan omongan banyak orang". Lalu aku menjawab dengan kebingungan: "Apa maksudmu Cin?". "Kamu gadis cantik, banyak pria yang mengagumimu. Tetapi mengapa kau malah memilih loser?", ucap Cindy sehingga membuatku merasa agak kesal padanya sambil berkata kepadanya: "Siapa yang kamu maksud loser?! Verdy? Salah ya aku bergaul dengannya?". "Bukan maksudku seperti itu, Key. Aku hanya ingin seseorang yang terbaik buatmu. Kau sahabatku dan aku tak bisa membiarkanmu memilih orang yang tidak ada apa-apanya dibanding kamu", kata Cindy. Lalu aku langsung pergi meninggalkan Cindy tanpa mengucapkan sepatah katapun.
***
Aku sendirian, tertitih di sini. Sahabat terbaikku tak mengerti tentang perasaanku. Apa selama ini dia berteman denganku hanya untuk memanfaatkan kepopuleranku lalu dia malu jika aku dekat dengan seseorang yang mereka anggap 'pecundang'. Ingin sekali aku menjatuhkan air mata ini. Namun apadaya, aku rasa sia-sia jika aku menangis saat ini.
Setelah itu aku rasakan seseorang berdiri di belakangku, Ia berkata, "Sahabatmu ada benarnya juga. Kau gadis idaman tak pantas bergaul dengan seorang pecundang". Aku mengenali suara itu yang tak lain adalah suara Verdy. Ternyata tadi Verdy tak sengaja mendengar pembicaraanku dengan Cindy. Dengan reflek aku langsung memeluk Verdy sambil berkata padanya: "Ver, apapun yang terjadi aku tak akan menjauh darimu!". Lalu dengan spontan Verdy membalas: "Tapi kenapa? bukankah apa yang dikatakan mereka ada benarnya? Sadarlah Kierra. Dunia kita sangatlah berbeda bagai langit dan bumi". "Tidakkah kau membacanya Ver? tidakkah kau membaca dari raut wajahku bahwa aku menyukaimu?!!!", teriak ku sambil menangis dan berlari menjauhi Verdy. Namun dengan penuh ketidakpahaman Verdy mengejarku lalu bertanya: "Benarkah itu Kierra? yang kau katakan tadi? tapi aku aku.... bagaimana mungkin kau bisa menyukai loser seperti aku. Bukalah matamu Key. Aku ini hanya pria cupu". "Jadi semua ini karena penampilan? Verdy dengarkan aku. Perasaan cinta seseorang tak dapat tumbuh hanya karena dilihat dari penampilan. Mungkin ada beberapa orang yang mengalaminya, tapi menurutku itu bukanlah cinta melainkan hanya ketertarikan sesaat.", tegasku sambil membelakangi Verdy. "Jadi selama 11 bulan kita dekat ini kau sudah memiliki perasaan ini, Key?. Tapi apa? apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?", tanyanya dengan ekspresi wajah linglung. Dengan tatapan mata yang mendalam padanya aku menjawab: "Kau berbeda Ver. Sejak awal aku mengenalmu, kau tak seperti pria lainnya yang hanya mendekatiku karena mengingini sesuatu. Aku merasakan hal yang 'baru' yang mungkin selama ini belum aku temukan sebelum aku mengenalmu. Kau membuatku nyaman berada di sisimu Ver. Sungguh tak pernah aku merasakan sebahagia ini. Hatiku telah memilihmu. Kau adalah bagian yang hilang dari puzzle hidupku ini. Tak peduli apa kata banyak orang. Mereka tak sependapat denganku. Aku memandangmu dari sisi yang berbeda Ver. Maafkan aku."
Sejak aku mengungkapkan hal itu, aku tak pernah bertemu dengan Verdy lagi karena saat itu adalah hari kelulusan. Hari terkahirku bertemu dengannya di sekolah.
***
Bertahun-tahun telah berlalu. Aku suka membayangkan hal yang terjadi padaku saat itu. Aku tahu ini gila. Sangat gila. Bagaimana mungkin seorang wanita menyatakan cinta dengan seorang pria yang sampai saat ini belum menanggapi perasaanmu tersebut?
Apakah Ia juga cinta padaku atau tidak sama sekali? Ini masih menjadi misteri bagiku.
Aku merindukanmu, Ver. Aku rindu tawamu. Aku ingin diajarkan melukis lagi denganmu.
Untuk saat ini, biar aku saja yang melukis masa lalu kita. Masa lalu yang sangat manis. Sungguh kau tak terlupakan. Ingin sekali aku melihat wajahmu lagi.
Jika waktu dapat diulang, aku lebih memilih untuk memendam perasaan ini dibandingkan tidak dapat bertemu denganmu lagi.
Jumat, 20 Desember 2013
Karena cinta atau memang kau yang bodoh?
Dia tidak peduli padamu, bodoh!
Mengapa kau tetap memikirkannya?
Mengapa kau tetap mencari perhatiannya?
Mengapa kau tetap cinta padanya? bahkan berharap dia melakukan hal yang sama denganmu. Kau berharap dia juga mencintaimu, bukan?. Coba lihat dimatanya saat ia menatapmu, apakah ia ada rasa yang 'lebih' buatmu?
Inilah kebodohanmu?
Bodoh memang!
Sial!!!! Inilah yang terjadi padaku. Aku bahkan tak tahu mengapa aku bisa menjadi sebodoh ini. Sejak aku jatuh cinta padanya, aku seakan-akan terlalu 'berharap' sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi seumur hidup.
Haruskah aku terus berdiam diri dalam kebodohan ini? Apa yang aku harus lakukan?
Presetan dengan kata-kata orang banyak. Aku akan tetap mencintaimu dari kejauhan, sayang. Aku akan tetap tinggal dalam kebodohan ini. Entah sampai kapan, aku yakin waktu akan menjawab semuanya.
Aku hanya dapat mengagumi mu dalam diam, tanpa seorangpun yang tahu. Tanpa seorangpun. Walaupun kau nampaknya tidak peduli padaku.
Ini indah bukan? menjadi pengagum rahasia? Indah tapi menyakitkan.
Biarkan aku seperti ini. Jangan ganggu hidupku. Jangan mencoba untuk menghapus perasaan ini. Aku tahu bahwa aku memang tak pantas untuknya. Tapi apa yang salah dengan perasaan seorang gadis kecil yang cinta namun tak menuntut banyak? Jadi ini namanya ketulusan. Biarkan semua mengalir seperti air. Perasaan ini, biar mengalir terus tanpa ada yang tahu penyebabnya mengalir.
Apakah kau pernah melihat bintang gemerlapan yang begitu indah di malam nyepi? Mereka ada banyak, bukan? tapi tak sebanyak hati ini peduli terhadapmu, tak sebanyak otak ini memikirkanmu. Kalau bisa kupinjamkan cahaya bintang untukmu supaya kau dapat membacaku, membaca perasaanku tanpa ku harus melontarkan kode-kode atau sinyal-sinyal bahwa aku menyukaimu.
Tapi siapa peduli. Aku hanya manusia biasa yak tak luput dari kesedihan.
Tanyakan hati ini penyebab aku bisa sesedih ini. Apa itu karena kebodohanku tetap mencintaimu ketika kau tak memperdulikanku? entahlah. Aku tak mengerti.
Rabu, 18 Desember 2013
Kekuatan Cinta (Part II)
Setiap malam, aku membayangkan hal yang sama. Air mataku selalu terjatuh saat memikirkan ini. Memang, makin hari sifat Tian makin berbeda terhadapku. Dia juga sering membatalkan janji denganku dengan alasan ada rapat osis. Padahal, kata Meredith rapat osis tak diadakan sesering itu. Namun aku hanya bisa memendam semuanya, aku tak mau Tian tahu bahwa aku telah melihatnya berdua sambil memegang tangan Jane.
Hingga suatu ketika, ayahku ditugaskan untuk bekerja di California, mau tidak mau aku dan keluargaku harus ikut pindah kesana.
Yang menjadi beban buatku adalah di mana aku harus berjauhan dengan Tian. LDR-an? haruskah? yang ada dia semakin dekat dengan Jane nantinya. Ah sudahlah, aku hanya bisa pasrah terhadap keadaan ini. Pesawat akan berangkat besok pagi pukul 07.00, maka hari ini juga ayahku mengurusi surat pindah dan lain sebagainya di sekolah.
Malampun tiba, ini adalah malam terakhirku di Jakarta, aku bahkan tak sempat berpamitan dengan teman-temanku, terutama Tian. Malam ini aku menulis sebuah surat untuk Tian. Aku berencana menitipkannya ke temanku. Aku harap Tian tak marah jika aku hanya dapat berpamitan padanya lewat sebuah surat.
***
Paginya aku menyempatkan diri untuk pergi ke rumah Amel untuk menitipkan surat ini kepada Tian. "Mell, maafin aku ga bisa pamitan sama temen-temen secara langsung, ini semua dadakan banget. Aku harap kalian mengerti", kataku kepada Amel. Lalu Amel menjawab: "Tak apa-apa Marsya, mereka pasti mengerti. Kamu baik-baik ya di sana, kita pasti merindukanmu. Dan bagaimana dengan Tian?". "Iya Amel, hmm Tian ya, ini aku punya sesuatu, tolong kamu titipin ke Tian yah", sahutku sambil memberikan secarik surat itu kepada Amel.
Setelah itu aku langsung balik menuju mobilku karena sudah ditunggu oleh orang tuaku.
Saat Amel sudah memberikan surat itu kepada Tian. Tanpa berpikir panjang, Tian langsung membuka surat itu dan membacanya.
Buat Sebastian Reinhard Clifton
Tian sayang, maafin aku karena aku hanya bisa menitipkan surat ini untukmu. Sayang, saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tiba di California. Iya sayang, aku pindah ke sana dan melanjutkan sekah di sana oleh karena ayahku ditugaskan untuk bekerja di sana. Aku tahu ini berat buat kita, buat hubungan yang telah kita lewati selama 2 tahun ini. Mungkin di sana aku akan memiliki teman baru, rumah baru, suasana baru, namun tak akan pernah ku temukan pacar baru. Karena kamu adalah cinta sejatiku, sayang.
Sayang, aku sudah tahu semuanya. Aku tahu bahwa belakangan ini kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Sejak saat itu, saat kamu mengatakan bahwa kamu rapat osis, sebenarnya hari itu tak ada rapat osis. Saat kamu tak mau ku ajak ke kantin dengan alasan kamu ingin belajar di kelas, ternyata kamu tidak belajar melainkan berselingkuh dengan Jane. Aku sudah tau itu semua sayang, aku bisa membaca perasaanmu melalui tatapan matamu yang berbeda. Kamu berubah sayang, kamu tak seperti Tian yang aku kenal dulu. Selama ini, aku hanya bisa menangis dalam diam, menutupi semua perasaanku di depan semua orang terutama kau dan Jane. Aku hanya bisa tersenyum walau aku tahu ini sulit sekali.
Mulai saat ini, aku harap kamu bisa berubah, kamu tak perlu khawatir. Aku sudah memaafkanmu dari awal. Tapi kamu harus janji satu hal padaku. Suatu saat jika aku kembali ke Jakarta, aku akan menemuimu sayang, kamu harus bisa bersikap lebih dewasa, aku ingin kau untuk tidak mengulangi kesalahanmu yaitu menduakanku. Aku juga berjanji untuk tidak mengkhianatimu. Aku percaya sepenuhnya ke kamu sayang. Tolong jangan kecewain aku.
Aku sayang kamu.
Jakarta, 25 April 2013
From your love, Marsya Angeline Jeffanta.
Tian menangis setelah membaca surat dariku, Ia menyadari bahwa selama ini Ia telah berkhianat terhadap cinta sejatinya. Air mata penuh penyesalan pun terjatuh dari mata pria manis ini dan terlintas di pikirannya, "Harusnya aku membuat hari-hari Marsya indah sebelum Ia pergi dari sini. Tapi aku malah menghancurkan kepercayaan yang telah Ia berikan kepadaku. Pataskah aku ini menerima cinta yang begitu tulus darinya? Dari Marsya yang aku kenal sejak lama, sejak kita masih bermain berdua di taman kanak-kanak. Aku baru merasakan kehilangan. Aku hanya dapat memeluknya dalam doa. Aku tak sabar ingin menemuinya, entah itu kapan!"
***
6 Tahun kemudian......
Aku sudah lulus dari bangku kuliahku. Aku ingin sekali kembali ke Indonesia, mencari pekerjaan di sana dan menetap tinggal di sana. Begini ya rasanya rindu terhadap tanah air. Aku rindu dengan Jakarta yang super macet, aku rindu akan banjir yang tak pernah absen mendatangi Jakarta tiap musim hujan, aku rindu naik becak, aku rindu dengan makanan-makanan dan jajan-jajanan khas Indonesia, yang paling utama adalah aku merindukanmu, Tian sayangku.
Besok aku berencana untuk kembali ke Indonesia, aku sudah diberi ijin oleh orang tuaku untuk kembali ke negeri tercinta. Tetapi aku tak memberitahukan hal ini kepada Tian. Aku ingin memberi sebuah kejutan untuknya.
***
07 Agustus 2019
Ini adalah hari pertamaku sejak 6 tahun terakhir menginjakkan kaki ku di Indonesia, di Jakarta lebih tepatnya. Aku sangat bahagia. Lalu aku pulang ke rumah lamaku yang sekarang ditempati oleh kakak ku dan menaruh semua barang-barangku. Walau agak lelah, aku tak memilih untuk istirahat terlebih dahulu. Aku langsung mengambil kunci mobilku yang sudah lama tak ku sentuh. "Kak, mobilku masih bisa dipake kan?", tanyaku kepada kakak ku yang berusia 3 tahun lebih tua dariku. "Masih kok, kakak pakai ke tempat kerja setiap hari, kakak selalu merawatnya kok", jawab kakak ku. "Okey bagus deh kak, aku pergi dulu ya dadaaaa", kataku sambil terburu-buru. "Hey! Marsya dengerin kakak! Kamu mau kemana? bukannya istirahat baru nyampe malah keluruyan. Ayo sini makan dulu kakak sudah siapkan makan malam untuk kita", tegas kakak ku. "Nanti aja kak, aku mau pergi bentarrrr aja, nanti aku makan di rumah kok byeeee", teriakku dari dalam mobil yang sudah berjalan menuju keluar rumah.
Wah ternyata banyak yang berubah ya, jalanan sudah rebih rapi dibandingkan yang dulu. Dengan kecepatan bagaikan aku adalah seorang pembalap mobil, aku langsung menghampiri rumah Tian. Dia tidak tahu bahwa aku sudah datang dari California.
Setibanya dirumah Tian, aku menekan bel yang ada di depan rumahnya.
"tingnungg, tingnung"
"Iya tunggu sebentar", suara seorang perempuan yang tak lain adalah ibu Tian sendiri.
"Marsya? ini kamu yaa? yaampun sudah lama sekali tak bertemu. Tante kangen dengan kamu nak. sini sini masuk dulu", kata ibu Tian.
Lalu aku memasuki rumah Tian dan duduk di sofa sambil berbincang-bincang dengan ibu Tian ditemani oleh secangkir teh hangat.
"Tian nya ada tante?" tanyaku sambil tersenyum. "Tiannya lagi jemput adiknya, kamu tunggu aja di sini sama tante. Bentar lagi dia nyampe rumah kok", sahut ibu Tian. Lalu kami berbincang-bincang mengenai kehidupanku saat di California. Ternyata Tian sudah cerita semuanya kepada ibunya tentang hal buruk yang pernah dilakukan Tian kepadaku di masa lalu.
"Kamu tak usah takut, Marsya. Tante berani jamin sekarang Tian sudah berubah. Dia berjanji dihadapan tante kalau dia tak akan mengulangi kejadian itu.", ucap ibu Tian.
"Mah! Mamah! kok ada mobil Marsya?", ku dengar teriakan Tian dari luar. Lalu aku dan ibu Tian keluar menghampiri Tian. Ia terkejut dan langsung memelukku. "Sayang, aku kangen banget sama kamu. Aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal saat kau pergi", kata Tian sambil mengeluskan kepalaku. Aku tak dapat mengatakan apapun. Aku sangat bahagia dapat melihat senyum Tian lagi. Air mata bahagia mengalir di mataku, ya bisa dibayangkan gimana rasanya tak bertemu orang yang kita sayang dalam waktu 6 tahun
"Aku berjanji tak akan mengulangi kesalahanku di masa lalu, sayang. Aku sangat menyesal saat kau pergi dari sini. Aku menyadari bahwa aku telah melakukan hal terbodoh dalam hidupku. Aku bersedia mengorbankan hidupku demi kamu. Maukah kau menjadi istriku, Marsya Sayang? Aku telah menanti-nantikan momen ini sejak lama", sambil meneteskan air mata kebahagiaan, Tian mengatakan hal itu padaku. "Tian? aku bahkan belum mengucapkan apapun sejak 6 tahun terakhir ini padamu, dan kamu memintaku untuk menjadi istrimu? apa kau yakin?", sahutku. "Aku yakin sayang. Percayalah padaku aku mohon", kata Tian dengan menatap mataku. "Hmm baiklah, tapi kamu harus berjanji seauatu padaku", jawabku tegas. "Apapun sayang, apapun akan ku lakukan untukmu", kata Tian lagi. "Aku ingin kamu mencintaiku seumur hidupku, menerima segala kekuranganku. Bersediakah?" Lalu Tian menjawab dengan tegas, "Aku bersedia sayang, aku akan berusaha untuk menepati janji-janjiku".
Sejak saat itu, aku menerima Tian, keluargaku pun juga menerimanya,
Aku yakin ini adalah permulaan, permulaan dari cerita yang sesungguhnya. Cerita cinta kita, Aku dan Tian. Kita berdua tak akan dapat dipisahkan oleh apapun. Mulai saat ini, sisa hidupku akan ku habiskan bersamamu.
Kekuatan Cinta (Part I)
"Hentakan kaki yang berbunyi mendekatiku, seolah-olah itu kamu. Ternyata memang iya itu adalah kamu!. Kali ini firasatku benar"
Marsya!, sapanya menegurku sambil memukul pundakku. Dengan tetap membaca novel favoritku, aku menjawabnya dengan cuek. Aku memang tak bermaksud untuk mengabaikannya. Tetapi setelah kejadian itu, dia "ngambek" karena dia kira aku udah nggak peduli lagi dengannya.
Padahal aku nggak berniat melakukannya. Aku hanya sedang berada pada mood terburuk ku karena banyak hal yang tidak menyenangkan terjadi hari itu.
Haha lucu memang hubungan ini berlangsung seperti ini. Sesungguhnya aku ingin sekali dia menjadi agak dewasa. Iya, aku lelah dengan semua sandiwara ini! sifatnya yang seperti anak kecil membuatku tidak nyaman dan merasa dikekang. Tapi kenapa? kenapa aku tetap cinta kepadanya? padahal dia bukan pria ideal buatku. Pria ideal bagiku adalah bukan ditunjukkan dengan kelebihan fisik melainkan dengan sikap dan kepribadian yang bisa dikatakan mengerti atau pengertian atau setidaknya cara berpikirnya jangan seperti anak kecil!
Sudahlah, aku kira aku terlalu menuntut banyak. Dengan semua kekurangan yang dimiliki Tian, aku juga harus belajar untuk menjadi dewasa, aku harus mengerti akan kelabilannya, cara berpikirnya, sifatnya yang suka dikit-dikit 'ngambek'.
"Ayo berubah sayang! jangan seperti itu lagi, kita sudah 18 tahun, bukan anak bocah smp yang masih cinta-cinta monyet", tegurku halus dengan tatapan dan senyuman penuh cinta buat Tian, kekasihku.
Oiya, perlu aku jelasin kalau aku dan Tian sudah berteman dari kecil, dan kita memulai hubungan ini sekitar 2 tahun yang lalu. Tepatnya saat kami berada di bangku SMP
Tian adalah cowok yang tidak terlalu populer di sekolah. Ia hanya pria biasa yang berhasil menaklukan hatiku lewat senyumannya dan tentu juga mungkin karena aku terlalu nyaman berada di sisinya sejak aku masih kecil.
***
Keesokan harinya aku melihat Tian sedang duduk bersama salah satu teman kelasku. Dia sangat cantik dan menawan. Tapi aku tak ada prasangka buruk sama sekali terhadap mereka.
"Jane!", teriakku dari kejauhan yang bermaksud untuk mencari perhatian Tian yang sedang duduk berdua dengan Jane. Lalu Jane menyuruhku untuk mendekat. "Sedang apa kalian?", tanyaku sambil tersenyum pada mereka. "Kami hanya membicarakan soal kegiatan osis yang akan dilaksanakan minggu depan", sahut Jane. "Rencananya kita, para osis akan membuat acara prom night untuk malam saat ulang tahun sekolah", kata Tian menlanjuti perkataan Jane. "Ide bagus! aku setuju dengan acara itu. Tetapi kenapa hanya kalian berdua yang membicarakan acara seperti itu apalagi di tempat seperti ini (saat itu kami sedang berada di taman sekolah). "Ini hanya awal Marsya Sayang, nanti kami akan bicarakan saat rapat osis sepulang sekolah di ruang osis", sahut Tian.
Kringg!!!! Kringgg!!!!! Kringgggg!!!!!!
Bel berbunyi tiga kali yang berarti kita harus masuk kelas.
"Hmm, yaudah bel udah bunyi tuh, ayo kita masuk kelas.", kata Jane kepada aku dan Tian. Lalu kami bertiga jalan bersama menuju ke kelas kami.
***
Saat pulang sekolah, aku pulang duluan tanpa diketahui oleh Tian karena Tian dan Jane sudah pergi ke ruang osis.
"Uuh Tian kenapa sih!!" Ungkapku kesal sambil mencoba menelefon nya beberapa kali namun tak kunjung di angkat. Tian tak biasanya seperti ini. Tidak mungkin rapat osis berlangsung sampai pukul 6 sore begini. Aku semakin khawatir lalu aku mencoba untuk menghubungi Jane. Tetapi Jane juga tidak mengangkat telefon dariku. Lalu terlintas di otakku, coba aku hubungi temanku, Meredith. Dia adalah ketua osis. Siapa tau Meredith sedang bersama dengan Tian, Jane dan osis-osis yang lainnya.
Aku: Hallo Meredith. Ini Meredith kan?
Meredith: Hallo Marsya, iya ini aku. Ada apa menelefonku?
Aku: Aku mau nanya, kamu udah selesai rapat osis gak?
Meredith: Rapat osis? Hari ini ga ada rapat osis, Sya. Rencananya rapat akan diadakan 2 hari lagi. Memangnya kenapa?
Aku: Serius? Aku kira sekarang ada rapat. Makasih ya buat informasinya dan maaf ya mengganggu.
Meredith: Sama-sama Marsya, ooh iya gak apa kok.
Kalau tidak ada rapat osis, mereka kemana dong? Ah sudahlah, tak usah terlalu panik Marsya, ingat kamu harus saling percaya dengan Tian.
Apapun yang Tian lakukan saat ini, dia tak mungkin mengkhianatimu Marsya!.
***
"Tian kamu kemaren kemana aja, Sayang?", tanyaku menghampiri Tian yang sedang duduk di kelas. "Maaf sayang, kemarin aku aku..... aku rapat osis trus pulangnya malem banget jadi aku ga sempet ngabarin kamu. Maafin aku, Sayang", jawab Tian dengan ekspresi wajah seperti orang berbohong. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Tian, walaupun aku tahu bahwa Tian sedang berbohong, aku hanya memilih untuk diam saja. "Iya gapapa kok, kita ke kantin yuk? Aku laper", kataku mengajak Tian. Tetapi Tian lebih memilih untuk tetap tinggal di kelas dengan alasan mau belajar buat ulangan sebentar lagi. Lalu akupun pergi meninggalkan Tian sendiri di kelas dan langsung pergi ke kantin untuk memberi makan cacing-cacing yang sedang demo di perutku. Setelah selesai makan, aku berjalan menuju kelas Tian, aku melihat dari luar jendela kelas Tian, melihat sesuatu yang membuat hatiku menangis, entah apa nama perasaan ini. Aku rasa ini adalah rasa cemburu. Iya, aku melihat Tian berdua di kelas bersama Jane sambil berpegangan tangan. Tanpa diketahui oleh mereka, aku langsung berlari mencari tempat yang sepi supaya aku dapat melampiaskan rasa ini dengan tangisan. Air mataku tak tertahankan. Aku tak bisa membayangkan bahwa Tian, belahan jiwaku selama.ini telah mengkhianatiku. Apa yang membuat sifatnya berubah seperti ini? Yang aku tahu adalah dulu dia sangat mencintaiku dan menjadikanku satu-satunya gadis yang ada di hatinya. Pikiranku berantakan! Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak mau kehilangan Tian tetapi aku juga tak mau bermasalah dengan sahabatku sendiri, Jane. Mengapa Jane melakukan ini padaku? Aku kira kedekatan Tian dan Jane hanyalah sebatas rekan osis. Tetapi perkiraanku salah, mereka mungkin mempunyai hubungan yang 'spesial'. Dan yang tidak aku pahami, mengapa Jane mau dijadikan selir hati atau kekasih gelap? Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa yang harus aku lakukan saat berada di depan mereka? pasti aku tidak bisa menahan air mata saat ada di depan mereka.
***
Sepulang sekolah, aku disapa oleh Tian dan Ia juga mengajakku untuk makan siang berdua di tempat biasa. Kali ini, sejauh mata memandang aku tidak melihat Jane. "Di mana Jane?", tanyaku kepada Tian. "Kenapa kamu nanyakin dia? mungkin dia udah pulang duluan", sahut Tian dengan nada lembut. "Hmm ga kenapa kok sayang, yuk kita berangkat", jawabku. Setelah itu aku dan Tian saling bertatapan sambil berjalan menuju parkir mobil. "Tunggu sebentar sayang", desak Tian sambil menatapku dengan detail. "Ada apa sayang?, sahutku kebingungan. "Sepertinya ada pelangi nih, pasti tadi habis hujan", kata Tian. Dan aku makin tak mengerti apa maksud pria manis ini. "Ada pelangi di matamu, sayang. Matamu sembab, kamu habis menangis ya? Kalau ada apa-apa cerita sama aku dong", kata Tian. "Aku? Menangis? Hahahahaa gak mungkin lah sayang, buat apa coba aku menangis. Tadi mataku kelilipan nih makanya jadi kayak gini deh hehe", sahutku dengan penuh kebohongan. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup aku membohongi Tian. "Kamu yakin gapapa?", tanya Tian sambil memegang bahuku dan menatap mataku dengan tajam. "Sungguh, sayang :)" tegasku. Sungguh aku menahan air mataku dengan erat saat Tian menatap mataku, aku tak sanggup melihatnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Tian melakukan hal yang sama dengan yang Ia lakukan terhadap Jane.
BERSAMBUNG.........







