Terkadang kita perlu merubah segala keresahan menjadi suatu dinamika tulisan yang mengungkap perasaan itu sendiri.

Senin, 03 Februari 2014

In Time

Tidak ada komentar
Sudah sekian lama, entah berapa lama tepatnya aku tak lagi berkomunikasi denganmu. Ku tak mengerti apa yang telah terjadi di antara kita. Aku hanya mengikuti bagaimana waktu membawaku. Bagaimana waktu yang membuatku ada di posisiku saat ini. Dengan siapapun itu, di manapun aku berada, sesungguhnya ini semua sudah direncanakan oleh waktu. Waktu yang mengatur hidupku. Aku tak berhak untuk menentukan pilihanku sendiri. Apapun yang ku perjuangkan akan lenyap termakan oleh waktu seakan-akan waktu-lah yang mengatur setiap langkahku.




Jika saja aku dapat bertindak tanpa dibatasi oleh waktu. Aku akan memilih untuk berada di sampingmu selama yang aku mau. Tanpa ada keraguan lagi. Aku senang berada di sampingmu. Menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Detik demi detik berada di sampingmu, aku dapat melupakan semua beban yang ada di kepalaku. Seolah-olah kau adalah sumber kebahagiaanku. Kau juga dapat membuat waktu dalam hidupku menjadi jauh lebih berharga. Aku tahu ini hanya hal sepele yang tak mungkin kau pedulikan. Tapi, Ya. Benar. Aku sangat mencintaimu. Mungkin hanya ini yang dapat aku katakan saat ini, tapi pernahkah mau berfikir betapa berartinya sebuah kalimat? Bahkan yang hanya terucap dalam beberapa detik. Apalagi untuk seorang sepertiku yang tak mungkin dapat memilikimu seutuhnya. Dirimu lebih pantas untuknya, waktumu hanya untuk dirinya yang selama ini kau puja-puja dihadapanku. Aku selalu tersenyum melihatmu bahagia ketika bercerita tentangnya. Akan tetapi, tidakkah kau melihat seseorang di sini yang selalu menantikan kehadiranmu meski perasaannya tak terbalaskan?

Aku mengerti, aku hanya membuang-buang waktuku untuk memendam perasaan ini sendirian. Aku hanya ingin satu hal. Engkau bahagia, meski bersama orang lain selain aku. Senyummu sudah cukup membuatku bahagia. Sesimpel itukah kebahagiaanku. Yang terpenting adalah kau akan selalu tetap menjadi sahabatku. Aku lebih memilih untuk memendam perasaan ini daripada mengutarakannya padamu. Aku yakin bahwa ini akan berdampak buruk bagi persahabatan kita. Persahabatan yang telah memakan banyak waktu. Delapan tahun bersahabat denganmu membuatku paham akan kepribadianmu. Dan sudah tiga tahun belakangan ini, perasaanku padamu mulai berubah. Sejak saat itu pula aku merasa takut kehilanganmu. Karena aku sudah menganggapmu seorang yang sangat penting dalam hidupku.

Terkadang, aku hanya perlu menunggu dan menunggu tanpa jawaban yang pasti sambil bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah aku harus mengutarakannya padamu? Perasaan ini apakan penting baginya?

Sampai saat inipun aku masih berdiri di sini, menanti keajaiban mendatangiku. Walau semua perasaan yang hadir dalam diriku tergantikan oleh waktu menjadi suatu perasaan yang janggal di dalam suatu persahabatan yang sudah terjalin sejak lama. Tetapi aku mengerti bahwa kau diciptakan hanya untuk menjadi sahabat terbaikku. Bukan cinta sejatiku.

Hanya ada satu hari dimana aku menyesal ada di sampingmu. Ini seolah-olah menjadi mimpi buruk yang paling dalam. Kejadian pada hari itu membuat jantungku seperti sudah berhenti berdetak. Membuat mataku tak lagi dapat memandang. Membuat kakiku tak lagi dapat melangkah. Membuat hidungku tak lagi dapat menghirup aroma indahnya dunia. Membuat telingaku tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Ini kesalahanku, tentu.
Aku paham, ini semua sudah direncanakan oleh waktu.
Hari itu secara spontan dan diluar kesadaran akal sehatku aku mengutarakan perasaanku padamu yang sesungguhnya. Perasaan dimana aku tak lagi menganggapmu sebagai seorang sahabat, namun lebih dari itu. Seiring berjalannya waktu, perasaanku pun berubah. Ini semua disebabkan karena perasaanku yang terlalu nyaman ketika menghabiskan waktu bersama dirimu.
Dan dengan wajah kecewa, engkau meninggalkanku. Akupun terdiam dan tak dapat berkata apa-apa. Aku bodoh. Memang sangat bodoh. Inilah penyesalanku. Jika saja pada waktu itu aku tak mengatakannya padamu, pasti saat ini kita masih sering menghabiskan waktu kita bersama. Seperti selayaknya sepasang sahabat dari kecil yang salah satu di antaranya memendam perasaan yang disebut cinta.

Hingga saat ini, aku tak mengetahui di mana keberadaanmu. Orang tuamu bilang kau sudah pindah untuk meneruskan kuliahmu di luar negeri. Aku bahkan tak sempat berpamitan denganmu. Rasa bersalahku padamu saat ini semakin besar. Aku merindukanmu, merindukan kita, merindukan bagaimana kita menghabiskan detik demi detik kita dengan penuh canda dan tawa. Andai dapat kuputar waktu, mungkin memang benar, seharusnya aku tak melakukan hal bodoh ini.

Air mataku terjatuh menandakan kerinduan atas namamu. Sudah sekitar tiga tahun kita tak berkomunikasi lagi. Kita sudah lost contact. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang yang benar-benar kita sayang. Bagaimana rasanya ketika waktu itu tak lagi ada. Bagaimana kau tidak menyadari betapa pentingnya  waktu saat kita berdua dulu hingga saat ini kita telah dipisahkan oleh jarak dan waktu.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar