Terkadang kita perlu merubah segala keresahan menjadi suatu dinamika tulisan yang mengungkap perasaan itu sendiri.

Senin, 14 April 2014

Mungkin, Aku Terlalu Berharap Banyak

Tidak ada komentar

Mungkin, aku terlalu berharap banyak. Rasanya semua terjadi begitu cepat. Kita berkenalan. Lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku.
Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kasong di hatiku. Tak ada lagi percakapan yang biasa. Seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa.
Entahlah. Perasaan ini tumbuh melebihi batas yang aku tahu. aku menjadi takut kehilanganmu.
Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tak ada di sampingku.

Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku. Ada sebab yang tak kumengerti sedikutpun. Aku sulit jauh darimu. Aku membutuhkanmu seperti aku butuh darah. Nafasku akan tercekat jika Sosokmu hilang dari pandangan mata.

Salahkah jika kamu selalu aku nomorsatukan?
Tapi entah mengapa sikapmu tak seperti sikapku.
Perhatianmu tak sedalam perhatianku.
Tatapanmu tak setajam tatapan mataku.

Adakah kesalahan di antara aku dan kamu?
Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?
Mungkin kamu belum terlalu paham tentang perasaanku karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku.
Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu?
aku selalu kehilangan kamu dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta ijin.
Minta ijin?
Memangnya aku siapa?
Kekasihmu?
Bodoh!
Tolol!

Hadir dalam mimpimupun aku sudah bersyukur. Apalagi bisa menjadi milikmu seutuhnya.
Mungkinkah?
Janjimu terlalu banyak hingga aku lupa menghitung yang mana saja yang belum kamu tepati.
Begitu sering kamu menyakiti tapi kumaafkan lagi berkali-kali.
Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu.
Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus.
Seberapa tidak peningkah aku?
Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan juga kau tinggalkan?
Apakah aku  tak berharga dimatamu?
Apakah aku hanya boneka yang selalu ikut aturanmu?
Dimana hatimu?
Siapakah orang yang telah beruntung karena  memiliki hatimu?
Mungkin semua memang salahku yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman.
Salahkah jika perasaanku tumbuh melebihi batas kewajaran?
Aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman. Tapi juga sebagai seseorang yang begitu bernilai dalam hidupku.
Namun semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin aku memang terlalu banyak berharap. Dan pasti kamu tak sadar jika aku berbohong aku bisa begitu mudah melupakanmu. Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian.

Diangkat dari soundcloud: Musikalisasi Puisi by Dwitasari


Tidak ada komentar :

Posting Komentar